NOVEL IN THE LIGHT AND RAIN BY VALEN ASH DIJAMIN BAPER (GRATIS BACA NOVEL)

 

Judul : In The light and Rain

Karya : Valen Ash

Genre : Romance, komedi, fantasi

Status : OnGoin

Deskripsi : 

Novel ini mengisahkan kisah cinta Seorang wanita bernama Urvilla yang memiliki keanehan seperti mendatangkan hujan dan mengalami kebasahan ketika dirinya emosi, marah, terluka dan menangis pasca bencana Tsunami yang menghilangkan nyawa seluruh keluarganya. keanehannya ini membuat dia selalu membawa baju ganti candangan setiap bekerja, membawa obat pendorong hormon bahagia dan mengacaukan musim yang di atur oleh Dewa musim yang tampan bernama Oase.

Dewa tampan itu tidak boleh mencintai manusia, tapi demi menstabilkan musimnya, menurut buku takdir, dia harus mencintai Urvilla, dia tidak paham kenapa harus mencintai Urvilla untuk menstabilkan musim, yang dia pahami sekarang resikonya lenyap dari muka bumi ini itu semakin besar ketika dia mencintai Urvilla, jika memang benar Urvilla adalah seorang manusia.

Kisah cinta yang dibumbui dunia fantasi dan komedi ini, juga di lengkapi dengan konflik dan misteri yang mengandung bawang, keharuan, perjuangan dan pengorbanan, kita akan di suguhkan kisah cinta yang tidak biasa, karena kita tidak tahu, apakah kematian akan menghampiri Urvilla atau menghampiri Oase.

Ini bukan kisah cinta fantasi yang penuh dengan perang, kamu akan terbius ketika membaca part 1, 2 dan 3, kamu akan menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya karena pebaca akan di buat cengar-cengir, menangis, marah, jengkel, bahagia dengan durasi yang campuran. Yang pasti tidak ada kisah yang muter2 oke! 


Part 1 : Awalnya 

Di sebuah desa dekat pantai bernama Desa Ikan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang sangat sederhana, mereka terdiri dari ayah, ibu dan dua anak perempuan bernama Urvilla sebagai anak pertama dan Parama sebagai anak kedua. Ayah mereka bekerja sebagai nelayan sedangkan ibu mereka bekerja sebagai buruh cuci. Urvilla waktu itu berusia delapan tahun dan Parama berusia tiga tahun, Urvilla sudah bersekolah di sekolah dasar yang tidak jauh dari rumahnya, sedangkan Parama belum merasakan bangku sekolah karena dia masih kecil. Keluarga kecil ini walaupun dalam segi ekonomi masih jauh dari kata cukup tapi mereka adalah pribadi yang penuh dengan syukur,  mereka bisa menikmati kebahagiaan ditengah kesulitan ekonomi. Keluarga ini juga merupakan keluarga yang taat dengan agama yang mereka anut.

Kebahagiaan itu menghilang dalam waktu singkat ketika sebuah bencana Tsunami menerjang Desa Ikan tepat disaat semua orang sudah terlelap tidur di rumah masing-masing. Tidak ada satu orang pun yang menyadari akan datangnya bahaya Tsunami, mereka semua pasrah dan hanya bisa tersadar saat berada di dalam lautan yang sangat gelap. Entah bagaimana ceritanya, Urvilla membuka matanya di tengah lautan yang gelap, dia kebingungan karena tidak melihat siapapun disana, dia hanya melihat beberapa cairan darah segar yang lewat di depan matanya, saat dia mengingat ayah, ibu dan adiknya. Urvilla mulai panik, dia mulai kehilangan kendali di dalam air, mulai menelan banyak air laut hingga dia merasa menelan sesuatu di dalam tenggorokannya yang membuatnya pingsan dan tidak sadarkan diri.

Keesokan harinya, pantai di penuhi dengan banyak wartawan dan keluarga yang mencari saudaranya yang menjadi korban  tsunami yang menimpa desa itu pada dini hari tadi. Banyak tubuh korban yang tidak utuh terbengkalai di tepi pantai, puing-puing bangunan berserakan dimana-mana dan tersebar bau anyir di setiap sudut pantai. Petugas medis mulai menyisir, berharap bisa menemukan korban yang masih selamat di antara puing-puing yang berserakan.

Tiba-tiba sinar matahari yang begitu terik membuat Urvilla membuka matanya, dia berfikir, mungkin dirinya sudah berada disurga karena sinar yang begitu terang. Namun, perlahan sinar itu berubah menjadi pemandangan langit biru yang sangat cerah, dia menoleh ke kanan dan ke kiri.

Apa aku masih hidup? Tanya Urvilla dalam hati sembari mencoba bangun dari tempatnya.

Dia cukup terkejut ketika melihat dikanan kirinya, penuh dengan orang-orang mati, Urvilla mengibaskan kakinya, sedikit takut karena ada kepala orang yang badannya sudah tidak utuh lagi menimpa kakinya. Tapi dia merasa aneh melihat tubuhnya sendiri, dia tidak terluka bahkan terlihat baik-baik saja, matanya mulai berkeliling. Lalu, dimana ayah, ibu dan Parama?Apa mereka masih hidup sepertiku?  Urvilla mencoba untuk bangkit dari tempatnya. Tiba-tiba ingatannya kembali saat dia berada di dalam laut dan menelan sesuatu yang membuatnya tidak sadarkan diri, kepalanya terasa pusing.

“Aww, Apa yang aku telan waktu itu?” dia mencoba mengingat tapi dia masih tidak tahu apa yang dia telan. Tiba-tiba ada seseorang berteriak, “Ada yang masih hidup!Ada yang masih hidup!” salah satu relawan yang melihat Urvilla tampak girang menemukan ada yang masih selamat.

Urvilla mulai mendengar suara orang berlari mendekatinya, tiba-tiba tubuhnya yang masih berbaring diangkat ke sebuah tandu dan dibawa ke posco penyelamatan. Urvilla merasa tubuhnya lemas, dia melihat ke kanan dan ke kiri tapi bayangan mulai gelap, akhirnya dia kembali pingsan.

Matanya kembali terbuka saat sudah berada di dalam tenda posco penyelamatan,

“Dok, korban sudah sadar!” ucap salah seorang relawan.

Dokter itu langsung mendekatinya, dia memeriksa suhu tubuh Urvilla kemudian memeriksa denyut nadi dan juga kedua matanya.

“Apa kamu masih merasa pusing?Siapa namamu, sayang?” tanya dokter wanita itu.

Urvilla menggeleng-nggelengkan kepalanya, matanya mulai berkeliling, dia melihat hanya ada relawan, beberapa perawat dan tim dokter saja.

“Namaku Urvilla, dok dimana pasien yang lainnya? ” ucapnya Lirih.

Dokter itu menelan salivanya, “Belum ada yang di temukan selamat, hanya kamu yang kami temukan masih hidup.” Jelas dokter itu.

Air mata Urvilla mengalir, bersamaan dengan itu petir bergemuruh, badai mulai datang lalu hujan turun, “Ayah, Ibu, Parama, kalian dimana?Aku berharap kalian masih hidup?” isaknya dalam tangis. Tiba-tiba Urvilla merasa tubuhnya basah dan penuh air yang membasahi tempat tidurnya juga, dia terkejut, padahal dia ada di bawah atap tapi tubuhnya bisa basah kuyup seperti terguyur hujan. Dokter dan relawan itu mencoba membantunya berdiri, “Kenapa bisa begini?” tanya dokter yang merasa aneh dengan keadaan Urvilla.

Urvilla yang bingung akhirnya berhenti menangis, langit tiba-tiba kembali terang dan tidak ada mendung sama sekali.  Para relawan yang masih bekerja untuk menemukan korban yang masih hidup juga merasa heran, tadi langit sangat mendung tapi tiba-tiba berubah menjadi panas terik dalam waktu yang sangat singkat.

Urvilla di beri baju ganti oleh seorang relawan, dia diantar ke sebuah kamar mandi umum untuk mengganti bajunya yang basah. Saat mengganti bajunya, Urvilla masih tidak mengerti tentang semua yang terjadi dengan dirinya, Apa yang terjadi padaku? Pikirnya.

Urvilla dan relawan itu akhirnya kembali ke posco lalu Urvilla kembali istirahat di tenda. Sampai petang datang, masih belum ada tanda-tanda pasien baru. Hingga para relawan dan tim sar memutuskan untuk meneruskan pencarian keesokan paginya. Malam itu para relawan dan petugas medis menginap di dalam posco, Urvilla yang masih terjaga sejak tadi, diam-diam keluar dari dalam posco.

Melihat suasana yang sepi, Urvilla memberanikan diri untuk melihat posisi tempat tinggalnya dulu, berharap dia bisa menemukan keluarganya. Udara malam itu sangat dingin, ombak masih terlihat ganas, Urvilla kembali meneteskan air mata, ketika melihat rumahnya sudah tersapu bersih, petir mulai menyambar, Urvilla melihat ke langit yang semakin gelap karena mendung, dia masih heran kenapa saat dia menangis langit gelap beserta petir. Tiba-tiba dia menginjak sebuah baju berwarna merah mirip seperti yang dipakai oleh adiknya Parama, Urvilla mencoba menarik baju yang tertindih oleh beberapa kayu, tapi masih tidak berhasil kemudian Urvilla mencoba memindahkan kayunya

"Aarrgghhh" erangnya kepayahan saat mengangkat batang kayu itu.

Setelah kayunya berhasil di pindahkan, Urvilla menangis sejadi-jadinya.

“Hiks, hiks, Tidak, ini tidak mungkin!Parama!”Tangis Urvilla kembali mendatangkan hujan lebat yang membasahi tubuhnya, Urvilla membuka bagian kayu yang lain hingga semuanya berhasil Urvilla singkirkan.

Urvilla semakin kebingungan melihat tubuh ayah dan ibunya juga ada disana dalam kondisi yang tidak utuh, Urvilla terduduk di depan jasad ibu, ayah dan adiknya, “Hiks, hiks, Ayah, ibu, Parama. Kenapa kalian pergi meninggalkan aku?Kenapa jadi begini?” Urvilla yang sangat syok melihat kenyataan itu akhirnya kembali tidak sadarkan diri.

Part 2 : Keanehan


Lima belas tahun kemudian...

Dunia berubah begitu cepat, bahkan semakin modern. Banyak fasilitas umum sudah menggunakan mesin otomatis, kendaraan umum juga berkembang seiring berjalannya waktu, gaya hidup manusia mulai bergonta-ganti, mereka mulai ketergantungan dengan gadget atau yang biasa mereka sebut dengan handphone. Segala aktifitas manusia, sekarang tergantung dengan dunia digital dari aktifitas berbelanja, bersosialisasi, bekerja, berkarir bahkan memenuhi kebutuhan sehari-hari, hampir semua manusia memiliki handphone untuk memenuhi gaya hidup mereka.

Tapi yang tidak berubah dari Dunia adalah manusia tidak pernah sadar dengan kehadiran dewa dan dewi disekitar mereka. Selama ini Dewa dan Dewi selalu berkeliaran sekitar mereka untuk menulis jalan cerita kehidupan setiap manusia, bahkan dewa hidup berdampingan dengan mereka untuk lebih mendalami peran mereka dalam menjalankan tugasnya sebagai dewa.

Kebanyakan dewa dan Dewi memiliki paras yang rupawan, bahkan diatas rata-rata, tidak heran, banyak wanita dan pria banyak mengidolakan mereka saat mereka berjalan, berada di pusat perbelanjaan, berada di cafe atau sekedar berdiri di halte bus. Mereka sulit di bedakan di tengah-tengah manusia, karena mereka berperilaku dan berpenampilan sama seperti manusia, yang membedakan dari mereka adalah Dewa tidak boleh mencintai siapapun karena jika itu terjadi maka mereka akan lenyap. Oleh karena itu, mereka selalu pintar menjaga jarak ketika manusia mulai mendekati mereka.

Hari itu Dewa Musim yang bernama Oase sedang bekerja untuk mengubah musim panas ke musim penghujan, kebetulan musim itu bekerja dengan baik, tidak ada masalah, namun hal itu sangat di benci oleh Urvilla karena dia harus menelan kenyataan pahit, setelah dia kehilangan keluarganya pasca bencana tsunami itu, Urvilla menyadari ada keanehan di dalam tubuhnya, ketika dia menangis, marah, emosi atau moodnya buruk, maka tiba-tiba hujan turun dan membasahi sekujur tubuhnya, jika dia berada di dalam rumah maka yang akan terjadi, tubuhnya langsung basah seperti terguyur hujan sama seperti saat di dalam posco penyelamatan. Naasnya dia selalu mengalami kemalangan yang membuatnya marah, kesal dan menangis, pernah suatu kali, dalam dua hari berturut-turut dia tidak berhenti dalam keadaan basah padahal sudah berganti pakaian berulang kali, karena moodnya yang buruk. Alhasil, dia harus menginap di rumah sakit karena mengalami demam dan flu yang berkepanjangan. Dokter mengatakan jika dia terus seperti ini maka imun tubuhnya tidak akan kuat, sehingga bisa saja kematian menghampirinya tiba-tiba. Urvilla selama ini tidak bisa mengatakan keanehannya itu kepada dokter karena sudah pasti dokter akan menganggapnya gila selain itu dia tidak punya cukup biaya jika saja dokter menyarankan dirinya untuk berobat. Dia sekarang hanya bergantung dengan obat pendorong hormon bahagia yang tersedia di apotik, untuk mengurangi resiko basah saat moodnya tidak baik, itu juga dia ketahui saat mencari informasi melalui internet, tapi terkadang obat itu sama sekali tidak bekerja ketika moodnya memang terlalu buruk.

“Kenapa harus hujan?Aku sangat membenci hujan, hujan ini selalu membawa sial! Sejak hari dimana aku selamat,  sampai detik ini hujan itu sangat menyebalkan!” Setiap umpatan Urvilla hujan terdengar makin deras, dia sedang berada di kamar mandi dengan air hangat, sehingga dia tidak mungkin basah atau kedinginan, karena dia mulai hafal dengan situasinya.

Oase mulai merasa aneh dengan hujan itu, dia yang baru berbincang dengan Dewa Cinta yang bernama Namo tiba-tiba terdiam tidak meneruskan kalimatnya, melihat hujanya melebat tanpa perintahnya.

“Kenapa kamu diam?” tanya Namo penasaran memperhatikan Oase yang terus melihat ke arah hujan.

“Apa kamu tidak merasa aneh?Hujan melebat tanpa perintahku,” Oase masih terus memperhatikannya tiba-tiba petir menyambar dan hujan bertambah lebih deras lagi.

“Mana mungkin hujan melebat tanpa perintahmu?Kamu kan sering melakukannya dalam keadaan diam?” Namo terlihat tidak percaya dengan Oase.

“Hah ... kali ini aku tidak melakukannya!Apa aku salah makan tadi atau aku lapar atau aku kelelahan?” Oase bingung dengan dirinya sendiri. 

“Dewa tidak pernah merasa lapar dan dewa tidak mungkin salah makan bahkan dewa tidak punya rasa lelah, jangan berfikir seolah kamu ini manusia!” Namo mencoba meluruskan pikiran Oase.

“Lalu?Ada apa dengan hujannya?Baiklah, berhenti!Ayo berhenti!” Oase memerintahkan hujan untuk berhenti.

Kali ini Namo menyadari jika ada aneh, “Iya, ya. Kenapa hujannya tidak berhenti?Tidak ada dewa selain dirimu kan di dunia ini?” Namo ikut berfikir.

Ternyata di balik hujan yang deras itu, Urvilla di kamar mandi terus mengumpat, dia sedang kesal dan sangat marah, setelah keluar dari panti asuhan banyak kemalangan yang terjadi dengan Urvilla seperti hari ini dia dipecat dari restauran dimana dia bekerja karena selama tiga hari dia membuat lantai basah tanpa alasan. Padahal, itu akibat karyawan lain yang selalu menyulut emosinya ketika bekerja, ditambah ada pelanggan yang super menyebalkan selalu membuatnya marah.

“Aku kesal!Kenapa hujan ini selalu mengikutiku?Kenapa aku selalu basah?Jika begini, bagaimana aku bisa tidur?haruskah aku di kamar mandi sampai besok pagi?Inilah tujuanku mencari rumah kontrakan yang ada bath-upnya, jika moodku tidak baik, aku lebih memilih tidur di bath-up. Aku malas sekali mencuci spray!Astaga, lalu bagaimana aku bisa mendapatkan pekerjaan baru?Pesangonku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhanku selama satu bulan, dasar pria tua sialan!Jika bukan karena kau pelanggan tetap restauran itu, aku pasti sudah menghajarmu!” Urvilla terus mengumpat sambil meremas-remas tirai kamar mandi.

Oase dan Namo mendadak bingung, petir menyambar begitu keras, hujannya tiba-tiba deras, tiba-tiba mereda lalu kembali deras lagi.

“Namo, kamu tahu aku kesal!” Oase mengepalkan tangannya.

Namo langsung mengelus pelan tangan Oase yang mengepal,“Jangan marah Oase!Itu berbahaya, ayo lepaskan tanganmu yang mengepal!bersantailah!kamu bisa mendatangkan petir dan banjir, jika kamu melakukan itu Dewa Bencana akan datang dan mendukungmu. Manusia bisa lenyap, kamu tahu kan?Apa kamu tidak bosan masuk ke dalam mercusuar dan tidak bisa keluar selama bertahun-tahun?”penjelasan Namo kali ini membuat Oase menghela nafas panjang dan melepaskan kepalan tangannya.

“Huh ... untung kamu bisa mendengarkanku.” Namo mulai bernafas lega.

“Lalu, apa yang harus kulakukan?” Oase sedikit geram.

“Musim tidak berganti dan tetap musim hujan, apa yang kamu takutkan?Jika dia sampai mengacaukan musim yang seharusnya, barulah kamu bisa mengambil tindakan!” Namo mencoba memberi saran.

“Sebenarnya ini bukan kali pertama, hanya saja aku tidak terlalu menggubris. Karena waktunya sangat singkat, waktu itu musim panas, jelas aku datangkan musim panas. Tiba-tiba hujan datang tapi hanya gerimis, lalu menghilang. Aku pikir, mungkin ada yang salah denganku, lalu setelah itu aku tidak menghiraukannya. Itu terjadi beberapa kali, yang ini paling parah, aku menghentikan hujanku sendiri saja tidak bisa,” Oase kembali menatap hujan yang masih deras.

“Jadi begitu?Begini saja, kamu pastikan lagi dua musim kedepan, jika masih terjadi hujan, disaat bukan musim hujan. Kamu bisa mengambil tindakan!” Namo memberikan saran lagi untuk Oase yang membuatnya mengangguk pelan.

“Aku akan menunggu sampai dua musim, aku berharap tidak ada masalah!”

 

Part 3 : Terjadi lagi


Tibalah perubahan musim yang pertama, musim hujan telah berlalu, sekarang waktunya musim gugur datang sebelum menyambut musim dingin. Oase mulai berdebar saat akan merubah musim, tapi dia melakukannya dengan sebaik mungkin.

Musim gugur akhirnya tiba...

Para Dewa yang berada di bumi sedang membicarakan musim gugur yang datang, mereka adalah Dewa Kelahiran bernama Lilian, Dewa Kesuburan bernama Ares dan juga Namo.

“Akhirnya musim telah berubah, lihatlah betapa anak-anak sangat menyukai dedaunan yang jatuh, atau lihatlah mereka yang sedang berpacaran, uh ... romantis sekali!Aku selalu menyukai musim gugur, karena pekerjaanku sebagai Dewa Cinta selalu berjalan dengan baik setiap musim gugur,” komentar Namo terlihat sangat bahagia.

“Musim gugur memang indah, tanaman akan berganti dengan daun yang baru setelah musim gugur dan dingin selesai, musim gugur juga sangat membantu tugasku,” ucap Ares.

“Ya, aku setuju. Musim gugur ini selalu membawa kebahagiaan untuk kelahiran manusia di dunia, mereka yang baru saja keluar dari rumah sakit membawa bayi mereka untuk pertama kalinya, pasti akan mengenalkan musim gugur ini. Para bayi pasti akan tersenyum melihat daun berguguran, itu sangat menyenangkan.” Sahut Lilian.

Disisi lain Urvilla sedang mencoba mencari pekerjaan, dia telah lelah seharian mencari lowongan pekerjaan dan belum menemukan pekerjaan yang cocok untuknya. Dia hanya seorang wanita tamatan SMA sehingga cukup sulit mencari pekerjaan di usianya yang sudah 23 tahun, hampir semua pekerjaan menginginkan gelar D3 atau S1. Dia mencoba untuk tidak mengeluh dan tidak kesal karena itu pasti akan membahayakan bajunya. Masih berjalan menyusuri pinggiran kota, baru beberapa langkah ada tiga orang preman lewat dan menatapnya dengan kurangajar, Urvilla mencoba tidak peduli, dia harus menjaga moodnya dengan baik hari ini. Saat Urvilla melewati preman yang berpapasan dengannya, tiba-tiba salah satu dari mereka mencolek bagian bawah pinggangnya, dengan spontan Urvilla langsung melepaskan sepatu high heelsnya dan melemparnya ke arah preman yang baru saja mencoba melecehkannya.

Langit langsung berubah mendung, musim gugur yang indah tiba-tiba sirna begitu saja, petir menyambar dan hujan pun turun.

Preman itu bingung dengan cuacanya, tapi dia tidak mengurungkan niatnya untuk mendekati Urvilla yang membuat kepalanya sedikit memar, “Kau berani-beraninya melempar kepalaku dengan sepatu?” bentak salah satu preman yang memang kepalanya terkena sepatu Urvilla.

Urvilla sama sekali tidak takut, selama di panti asuhan, dia di bekali ilmu bela diri, dia memang selalu berpenampilan feminim tapi tidak dengan jiwanya karena seperti kata ibu asuhnya di panti, dunia luar sangat kejam, jadi dia harus punya pertahanan.

“Aku benar-benar membenci hal ini, gara-gara mereka aku harus basah lagi!Dasar menyebalkan!Kenapa kalian mencoba melecehkanku?Hia ...”

“Plug!”

Tendangan kaki Urvilla tepat mengenai pipi preman yang berbicara dengannya tadi, kedua preman yang lain bengong seketika melihat wajah bosnya berdarah dan memar. Mereka ikut menyerang Urvilla tapi Urvila menyelesaikan mereka berdua dengan sekali tendangan.

“Plug!”

Kedua preman itu berhamburan ke tanah, akhirnya ketiga preman itu kabur meninggalkan Urvilla.

Hujan yang deras itu berubah menjadi gerimis, setelah Urvilla menghela nafas dan meredakan emosinya. Kemudian, Urvilla melangkahkan kakinya untuk segera kembali ke rumah.

***

Ketiga Dewa yang baru menikmati musim gugur tadi, sedikit emosi dengan yang terjadi saat ini.

“Apa Oase sedang berulah?” tanya Ares yang sedikit sebal karena bajunya basah.

Namo ikut kesal, “Pasangan itu putus karena hujan datang!Astaga!Apa yang dilakukan Oase?”

“Kasian bayi itu, dia baru saja mengenal musim gugur.” Keluh Lilian.

“Bagaimana jika kita menemuinya saja di rumah dewa?” Ares memberi saran.

“Ide bagus, Ayo kita kesana!” jawab Namo dengan antusias, Lilian tidak menyahut apa-apa dia hanya mengikuti saja kedua dewa itu berjalan.

Oase sedang menahan kesal di depan mejanya tepat di rumah dewa, “Siapa yang mengacaukan musimku?” Oase menghela nafas mencoba menahan emosinya, “Tidak, aku tidak boleh marah!Nanti aku akan membuat banyak masalah lagi.” Oase mencoba menahan amarahnya dan sedikit memijat kepalanya.

Ketiga dewa itu tiba-tiba muncul,

“Oase apa yang kamu lakukan?” bentak Ares terlihat sangat kesal.

“Apa kamu sedang kesal?Pasangan itu putus karena ulahmu,” tambah Namo.

“Atau moodmu sedang kacau?” sahut Lilian.

Oase menghela nafas, “Aku tidak berbuat apa-apa, kalian pusing aku juga pusing. Aku tidak tahu ini ulah siapa?” Oase masih menahan emosinya.

Namo baru ingat kejadian waktu itu, “Apa ini hari pertama pergantian musim dan musimnya berubah?Apa benar begitu, Oase?”

“Tuh tahu, kenapa kamu ikut menyalahkan aku, Mo?Apa kamu ingin aku marah, sekarang?Aku sedang kesal,” Oase beranjak dari tempat duduknya dan menendang kursi yang baru saja di dudukinya.

“Brak!”

Oase meninggalkan mereka bertiga ...

“Sebenarnya kenapa dia?Jelaskan!Apa maksud dari pertanyaanmu itu, Mo?” Ares merasa Namo tahu sesuatu.

“Iya, aku baru ingat. Kalian berdua mendekatlah!”

Namo menceritakan semua kejadiannya, mereka pun akhirnya paham situasinya.

“Lalu, siapa yang mengendalikan hujannya?” Lilian penasaran.

“Oase saja tidah tahu, apalagi aku.” Namo mengangkat kedua bahunya.

“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi, siapa kira-kira yang bisa membantuku mencari tahu?” Ares bertanya dalam hati sambil berfikir.

Oase menuju taman kebahagiaan yang ada di rumah dewa, taman yang hanya bisa di lihat oleh Dewa. Oase duduk termenung di salah satu bangku disana menatap bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu yang riang terbang diatasnya.

Oase menatap ke arah kupu-kupu itu,“Apa kalian bisa membantuku?Aku bisa mendapatkan hukuman dari Dewa ketua jika musimku di kacaukan lagi, jika pergantian musim selanjutnya masih kacau. Aku benar-benar akan mendapatkan masalah, karena musim depan adalah musim yang sangat di tunggu manusia untuk merayakan natal. Aku akan bersabar sebentar jika masih kacau di musim berikutnya, tidak ada cara lain, aku harus meminta bantuan kepada Dewa pembaca,” Oase berbicara sendiri di taman itu untuk meredakan pening di kepalanya karena kesal yang tertahan.

***

“Bagus, aku pulang kembali basah dan hujan masih rintik-rintik hingga aku kembali ke rumah.” Urvilla menghella nafas lalu menghentikan langkah kakinya di depan pintu rumah, dia mengambil obat pendorong hormon bahagia itu untuk mengembalikan moodnya.

“Hah ... aku sudah lebih baik. Cuaca cerah dan aku harus mengganti pakaianku sebelum aku kedinginan.” Urvilla membuka pintu rumahnya lalu masuk.

Meletakkan sepatunya di ember yang selalu tersedia di depan pintu. Urvilla berlari menuju ke kamar mandi sebelum dia menginjakkan kaki ke kamar. Baju Urvilla sengaja di letakkan di kamar mandi beberapa, agar disaat moment seperti ini dia tidak kesusahan untuk berjalan keluar kamar tanpa busana hanya untuk mengambil bajunya. Urvilla sekalian mandi untuk membilas tubuhnya, kata ibu asuhnya di panti, hal ini harus dilakukan agar tidak cepat masuk angin.

Lima belas menit kemudian, Urvilla selesai mandi, dia sudah membungkus rambutnya dengan handuk. Dia langsung menuju ke dapur untuk membuat makanan karena dia terlihat sangat lapar.

Di dalam kulkas hanya tersisa mie instant, dia sudah menanak nasi tadi pagi. Urvilla mengambil salah satu mie instant lalu membuka tutupnya, mengambil air panas dari termos kemudian mulai membuka beberapa bumbu dengan gunting lalu mencampurkannya ke dalam mie instan, setelah semua sudah masuk Urvilla menutupnya. Sembari menunggu mienya siap, dia pergi ke kamar tidurnya untuk mengambil handphone di dalam tas lalu menancapkan ke charger yang ada di salah satu stop kontak karena batreinya sudah habis saat sampai di rumah.

Lima menit kemudian, mie sudah siap, Urvilla mengambilnya bersama satu piring nasi, kemudian menuju ke meja kecil di depannya untuk menyantap makanan. Belum berhasil satu suapan masuk ke dalam mulutnya, tiba-tiba suara bell pintunya berbunyi, “Thing, thong.”


Part 4 : Restoran

"Siapa yang datang siang-siang begini?" keluh Urvilla sambil beranjak dari tempat duduknya untuk segera membukakan pintu.

"Krek!" Urvilla membuka pintu.

Ternyata yang datang adalah kurir. Kurir itu memberikan sebuah amplop besar berwarna coklat, Urvilla langsung menerimanya.

"Terimakasih pak,"

Kurir itu hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Urvilla kembali masuk ke dalam rumah kontrakannya, dia mengamati amplop coklat besar itu dan melihat kop suratnya dari restoran ayam panggang.

"Apa aku pernah mengirimkan surat lamaran secara online, ya? Mungkin aku lupa," Urvilla segera membuka amplop coklat besar itu.

Dia berhasil mengeluarkan isinya, tertera dengan jelas, nama, alamat, nomor handphonenya disana, ada keterangan yang menjelaskan bahwa surat ini adalah jawaban lamaran pekerjaan yang diajukan tanggal dua puluh enam bulan Maret sekitar satu tahun yang lalu.

"Pantas saja aku lupa," ungkapnya.

Urvilla membacanya lagi sampai selesai,

"Wah ... benar-benar keajaiban, disaat aku membutuhkan pekerjaan, lamaranku yang dulu ada panggilan. Terimakasih Tuhan, aku bisa melanjutkan hidup. Sepertinya panggilan Interview itu hari ini juga, baiklah setelah makan aku akan langsung berangkat! " Urvilla kembali ke meja kecilnya untuk menyantap mie instan dan nasi yang tadi sempat tertunda.

Urvilla kembali bersemangat, dia mendorong dengan lahap mie instan ke dalam mulutnya sampai tidak menyisakan sedikitpun di dalam mangkuknya, kemudian dia segera mengganti bajunya dengan pakaian formal, setelah siap Urvilla keluar dari rumah kontrakannya untuk menghadiri panggilan kerja di restoran itu. Urvilla mulai berjalan, dia akhirnya sampai di ujung jalan, kembali melihat alamat restoran ayam panggang yang ada di dalam surat panggilannya itu.

“Ah, ini dia!” Akhirnya Urvilla berhenti di sudut jalan yang tidak terlalu jauh dari rumah kontrakannya.

“Wah, aku semakin menghemat waktu dan uang, jika aku benar-benar di terima di tempat ini. restoran ini tidak terlalu jauh dari rumah.” Urvilla menaiki tangga dan mencoba masuk ke dalam restoran.

Restoran ini bergaya klasik, desain interiornya cukup mewah, lampu-lampu yang terpasang pun terlihat sangat elegan. Di dalam restoran itu terlihat cukup ramai, banyak pengunjung datang dan pergi, bahkan banyak karyawan terlihat sibuk mengantarkan makanan kesana kemari. Yang membuat Urvilla heran adalah karyawan yang ada disana semua berpenampilan sangat menarik, pelayan wanita yang bekerja semuanya memiliki tinggi yang ideal, mereka mengenakan rok mini dengan celemek pelayan yang sangat menggemaskan, selain itu untuk penampilan para pelayan prianya, mereka semua berkemeja hitam dengan celana berwarna sedikit abu-abu, ada celemek juga yang terpasang di pinggang hingga lututnya, wajah mereka semua sangat tampan, tubuh mereka juga kekar, menurut Urvilla tinggi mereka mungkin sekitar seratus delapan puluhan. Urvilla langsung melihat pakaiannya sendiri dan membandingkannya dengan pelayan wanita yang lain di restoran itu.

Apa penampilan ini akan baik-baik saja? pikir Urvilla.

Seorang pelayan pria bernama Galen itu terus mengamati Urvilla yang sepertinya sedang kebingungan, pelayan yang terkenal tenang dan tampan seperti arti dari namanya itu berjalan mendekati Urvilla.

“Maaf nona, apa ada yang bisa saya bantu?” pertanyaan itu benar-benar membuat Urvilla menoleh dengan sempurna, Urvilla langsung terpesona pada pandangan pertama. Matanya fokus ke arah mata Galen yang warna pupilnya berwarna biru seperti keturunan Eropa.

Astaga!Apa dia seorang pangeran dari negeri dongeng? tanya Urvilla dalam hati, tanpa sadar Urvilla melamun.

Galen sudah terbiasa mendapatkan reaksi dari banyak wanita yang bengong setelah melihatnya pertama kali, Galen tersenyum memanggil Urvilla sekali lagi.

“Nona?”

Urvilla masih melamun dan belum menjawabnya.

“Nona?Apa ada yang bisa saya bantu?” Galen menggoyangkan telapak tangannya ke depan wajah Urvilla.

Spontan hal itu membuat Urvilla sadar, dia mulai salah tingkah, “Ah, maaf, saya ingin bertemu dengan manager restoran.” Wajah Urvilla memerah, dia sangat malu karena ketahuan tidak berkedip memandang seorang pria. Apa yang kamu lakukan Urvilla, kamu terlihat sangat norak ketika melihat pria tampan di hadapanmu?  Keluhnya dalam hati.

Galen hanya tersenyum, Apa dia adalah karyawan baru yang mendapatkan panggilan kerja di tempat ini?Dia cantik dan cukup manis, komentar Galen dalam hati.

“Oh, aku akan mengantarmu ke ruangannya, Ikutlah denganku!” perintah Galen dengan cukup ramah.

Sepertinya aku akan mencoba betah selama mungkin untuk bekerja disini, tapi jika aku benar-benar di terima disini. Urvilla mengikuti Galen yang sudah berjalan duluan di hadapannya.

Galen sudah berhenti di depan pintu, “Ini ruangannya!Aku harus kembali bekerja, semoga kamu berhasil!” ucap Galen yang secara tidak langsung memberi Urvilla semangat.

“Terimakasih,” ucap Urvilla sambil tersenyum.

Galen hanya mengangguk lalu meninggalkannya disana.

Sekarang waktunya berjuang, semoga aku berhasil! Ucapnya dalam hati.

“Thok, thok, thok,” Urvilla melakukan etika sebelum masuk ke ruangan itu.

Ada suara dari dalam yang menjawab, “Masuk!”

Urvilla langsung membuka pintunya, tampak seorang pria berkemeja hitam dan berkaca mata itu duduk masih menghadap ke arah komputer di hadapannya. Pria itu terlihat masih muda, saat pria itu menoleh dan menatap Urvilla. Jantung Urvilla langsung berdebar tidak karuan.

Apa restoran ini memiliki standart yang tinggi?Kenapa semua orang disini punya paras diatas rata-rata? Urvilla sedikit heran dan masih terpaku disana.

“Apa kamu akan terus berdiri disitu?” tanya manager restoran itu yang bernama Anke.

Urvilla tersadar dari lamunannya, “Ah iya pak, “ Urvilla langsung berjalan menghampiri meja pria itu.

“Duduklah!” perintahnya.

Urvilla langsung menuruti perintah dari manager restoran itu.

“Kamu bisa memanggilku Anke, aku tidak suka dituakan, semua pelayan disini biasa memanggilku begitu. Aku sebenarnya tidak perlu melakukan interview, aku sudah tahu pengalaman kerjamu sebelum bekerja di tempat ini, yang harus kamu lakukan sekarang adalah mengganti penampilanmu, lalu bekerjalah mulai hari ini!” pria itu benar-benar membuat Urvilla mengernyitkan dahinya.

Apa itu artinya aku di terima?tanpa menjawab satu pertanyaan pun? Tanya Urvilla dalam hati.

“Apa itu berarti saya diterima bekerja disini?”Urvilla mencoba memastikan sekali lagi.

“Ya, kamu diterima. Silahkan mulai bekerja! di belakang ruangan ini ada loker, disana kamu bisa mendapatkan kostum pelayan. Berdandanlah seperti yang lain!” pria itu kembali melihat ke layar komputernya.

“Terimakasih, Anke.” Urvilla membungkukkan badan lalu keluar dari ruangan itu.

Setelah Urvilla keluar, pria bernama Anke itu tersenyum, “Akhirnya, aku menemukannya!”

Suasana hati Urvilla menjadi sangat bagus hari ini, dengan semangat memakai kostum pelayan yang tersedia disana. Urvilla adalah wanita yang memiliki tinggi yang ideal, tubuhnya ramping, kulitnya putih bahkan parasnya pun cantik. Hanya saja dia tidak pernah menyadari hal itu, hari ini Urvilla memilih kostum berwarna pink, rambutnya di ikat seperti ekor kuda lalu memakai bando dengan warna yang senada, Urvilla pergi ke depan meja rias yang tersedia disana.

“Wah ... lengkap sekali, apa ini memang disediakan untuk karyawan?” tiba-tiba Urvilla membaca tulisan di dinding.

“Semua yang ada di meja rias, milik semua karyawan yang bekerja di restoran ini. Kalian bebas memakainya!”

Setelah membaca tulisan itu, Urvilla menggeleng-nggelengkan kepalanya, “Restoran ini benar-benar memfasilitasi karyawannya dengan baik,” komentar Urvilla sambil mengambil beberapa alat make up yang di pilihnya untuk merias diri.

Urvilla memiliki beberapa keterampilan yang lengkap, selain menguasai ilmu bela diri, dia juga sangat pandai memasak, berdandan dan pandai berjualan. Semua itu dia dapatkan saat belajar di panti asuhan, ibu panti memang membekali anak-anak mereka dengan keterampilan, sehingga walaupun mereka kebanyakan tidak merasakan bangku kuliah, ibu panti berharap mereka masih bisa bekerja.

Urvilla selasai berdandan, dia mengenakan kostum pelayan supermini, melihatnya di kaca, dia tidak pernah memuji dirinya sendiri, yang dia pikirkan adalah dia sudah mengenakan kostum yang pantas seperti pelayan yang lainnya.

Urvilla keluar sudah membawa nampan, para pria dan wanita yang menjadi pelayan langsung menatap Urvilla dengan tatapan menyelidik, Urvilla sedikit heran, restoran yang begitu ramai sekarang menjadi sepi pengunjung.

Apa restoran ini akan tutup?Ku kira restoran ini akan sampai malam? Urvilla melihat jam di tangannya.

Tiba-tiba ada suara langkah kaki dari belakang Urvilla, membuat Urvilla menoleh lalu bergeser agar tidak menutupi jalan. Ternyata Anke yang datang.

“Kalian memang selalu patuh!Silahkan duduk, kecuali kamu Urvilla!” Anke mempersilahkan duduk untuk semua pelayan tapi tidak dengan Urvilla.

Semua pelayan langsung duduk di kursi yang tersedia, termasuk bagian kasir dan koki yang memasak di dapur.

“Kalian sudah tahu aku memerlukan satu orang pelayan lagi, dia sudah datang, namanya adalah Urvilla.”

Setelah Anke memperkenalkan Urvilla, mereka semua bertepuk tangan.

Sekelompok pelayan pria termasuk Galen disana mulai bergunjing.

“Dia wanita yang sangat cantik dan seksi sekali, rumornya dia bukan seorang Dewi tapi dia manusia. Apa Anke sudah gila mempekerjakan manusia di restoran dewa?” Komentar Riko yang matanya tertuju pada paha mulus milik Urvilla.

“Ko, angkat wajahmu!Jika dia manusia, sudah pasti para dewa disini terancam,” komentar Tungga sembari memperingkatkan mata Riko yang sedikit nakal.

“Aku yakin ada yang spesial dari dari wanita ini, Anke tidak mungkin akan memperkerjakannya disini jika wanita ini hanya manusia biasa.” Galen mulai menganalisa.

“Bisa jadi, ucapanmu benar, Ga.” Riko ikut menyetujuinya.

Kali ini berbeda dengan pendapat para Dewi, mereka seperti mencium bau persaingan disana.

“Entah mengapa firasatku sedikit aneh melihat wanita ini.” ucap Auris.

“Aku juga sama, sebenarnya dia dewi apa?” tanya Vata masih melihat dengan intens Urvilla dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Aku mendengar rumor, dia adalah manusia, bukan dewi.” Tiba-tiba Sanya menyahut.

“Apa!?Bukankah dia bisa mengancam?” Auris terkejut mendengar apa yang di katakan Sanya barusan.

“Entahlah, kurasa ada yang spesial dari wanita ini. Anke tidak mungkin memilih sembarang orang untuk bekerja di restoran Dewa. Dia adalah Dewa takdir, dia tahu takdir manusia dan takdir dewa, pasti dia punya tujuan meletakkan wanita itu di restoran ini.” Jawab Sanya.

“Betul juga ucapanmu,” Auris akhirnya berfikiran yang sama.

“Mulai hari ini Urvilla akan menjadi pelayan di restoran ini, aku harap kalian bisa bekerja sama! Untuk senior disini, nanti malam aku akan mengadakan rapat, aku harap kalian tidak pergi dari tempat ini. Sekarang silahkan restoran kembali di buka, kalian bisa kembali bekerja!” Anke kembali masuk ke ruangannya.

Mereka semua langsung bubar dan mulai membuka restoran itu lagi, Urvilla kagum dengan semua yang bekerja disini, selain mereka tampan dan cantik, mereka sangat disiplin, gerakan mereka juga sangat cepat.

Sepertinya aku masih harus banyak belajar! Urvilla mulai membantu para pelayan untuk membersihkan meja dan membawa piring kotor ke dapur.

Para Dewa yang bekerja masih enggan untuk dekat dengan Urvilla karena mereka masih belum tahu apakah Urvilla ini manusia atau dewi, mereka memutuskan jaga jarak dengan Urvilla sampai Anke menjelaskan kepada mereka tentang semua ini.

Restoran tutup sekitar pukul sembilan malam, Urvilla cukup pegal dengan banyak pekerjaan yang datang menghampirinya. Restoran itu tidak pernah memberikan jeda untuknya bekerja, bahkan dia tidak ada waktu untuk mengobrol dengan pelayan yang lain. Urvilla benar-benar menikmati pekerjaannya kali ini, karena dia mampu terhindar dari hujan dan kebasahan yang selalu menghampirinya, tidak ada pelanggan satu pun yang membuatnya kesal.

Malam itu hanya dia yang berada di loker karena yang lainnya masih ada rapat dengan Anke. Urvilla mengganti kostum itu dengan pakaiannya sendiri, dia sudah bersiap untuk meninggalkan restoran itu.

Entah mengapa dia seperti terasing karena saat dia pulang, tidak ada sama sekali karyawan disana yang menghiraukannya. Urvilla akhirnya keluar dari restoran itu.

Semua dewa dan dewi yang bekerja disana tiba-tiba menghela nafas lega, banyak pertanyaan di benak mereka tentang Urvilla. Setelah melihat Urvilla pergi, Anke keluar dengan senyuman penuh arti, dia langsung duduk di kursi tengah.

“Anke, apa kau sudah gila?” tanya Riko langsung duduk menghadap ke arah Anke.

“Kau ini membuat jantung kami tidak berhenti berdebar,” komentar Tungga.

“Sebenarnya siapa wanita itu?Dia dewa atau manusia?”Auris sedikit tidak sabar.

“Iya, Jelaskan pada kami!” akhirnya semua menyudutkan Anke.

“Duduklah!Kalian tidak perlu sengotot itu untuk meminta penjelasanku. Tujuanku mengumpulkan kalian memang untuk hal ini.” mendengar ucapan Anke semuanya langsung duduk di kursi kosong yang ada di restoran itu.

“Wanita itu adalah manusia, tapi dia bukan manusia biasa, aku tidak bisa menjelaskannya. Kalian akan segera mengetahuinya, takdir yang tertulis tidak begitu jelas, tapi sebuah pertemuan akan terjadi disini. Wanita itu tidak akan membahayakan kalian disini, kalian boleh berteman dengannya, akan ada salah satu dari kalian jatuh hati kepadanya!Tapi dia bukan takdirnya,” penjelasan Anke membuat para dewa saling menatap, dalam pikiran mereka penuh dengan pertanyaan.

"Berarti salah satu dari kami akan lenyap?" komentar Riko penasaran.

Anke menaikan kedua bahunya, "Entahlah!"

Semua dewa dan dewi mendadak bingung, siapa diantara mereka yang akan jatuh hati kepada wanita itu.

"Aku rasa para dewi akan aman, karena tidak mungkin yang akan menaruh hati pada wanita itu wanita kan?itu pasti dari kalangan para dewa," ucap Sanya.

Para Dewi setuju dengan apa yang di katakan Sanya, spontan mereka berbalik menatap para dewa yang ada di belakang mereka, dengan mata para dewi yang sebenarnya.

"Firasatku tidak enak, kenapa para dewi mengeluarkan mata asli mereka?" tanya Riko yang tiba-tiba menepuk pundak Tungga.

"Aku rasa ada beberapa dari mereka merasa tersaingi karena kehadiran wanita itu." penjelasan Tungga membuat Riko mengangguk setuju.

"Kurasa juga begitu," ucap Riko.

 

Part 5 : Takdir Berjalan


Urvilla sudah sampai di rumah kontrakannya, dia merasa sangat beruntung karena hari ini dia tidak perlu bersusah payah untuk mengganti bajunya karena kebasahan. Dia hanya merasa ada yang aneh dengan semua orang di restoran itu, Apa mereka menghindariku?Apa memang biasanya mereka begitu?Entahlah! Urvilla berfikir sambil mengotak-atik pesan di handphonenya.

Tiba-tiba saja Urvilla penasaran dengan restoran dimana sekarang dia bekerja, dia menulis alamat restoran tersebut di halaman pencarian. Setelah mendapatkan hasilnya, Urvilla mengernyitkan dahinya, dia mencoba mencocokkan dengan alamat yang ada di surat panggilan kerjanya.

“Tidak mungkin, ini alamat yang sama, tapi bentuk restorannya berbeda. Apa ini gambar restoran yang dulu?” pikir Urvilla.

Entah mengapa dia ingin memeriksa emailnya setahun yang lalu, dia ingin memastikan jika dia benar-benar mengirimkan surat lamaran ke restoran itu. Setelah beberapa menit mencari, Kenapa tidak ada?apa aku mengirimnya lewat kurir?mungkin aku lupa, sudahlah, aku sudah bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan ini. Urvilla mengurungkan niatnya untuk mengetahui lebih jauh tentang restoran itu, akhirnya Urvilla menuju ke kamar mandi, dia terlalu berkeringat hari ini, dia memutuskan untuk mandi.

***

Beberapa bulan telah berlalu, Oase mulai bertugas untuk mengganti musimnya lagi, Aku berharap kali ini tidak ada yang mengacaukan musimku! Salju pertama pun turun. Oase memandang musimnya dengan tersenyum, dia memutuskan untuk berkeliling dan melihat semua orang menyambut musim dingin dengan bahagia.

Natal akan segera tiba, anak-anak dan orang dewasa akan bermain di tengah salju. Entah mengapa aku menyukai pemandangan itu, ungkap Oase mulai berjalan di pinggiran kota. Tubuhnya berhenti di atas jembatan, dia memandang sungai sudah berwarna putih. Tiba-tiba dewa Cinta datang dan menepuk pundaknya.

“Bagaimana musimnya?Tidak ada yang berubah, bukan?”tanya Namo memandang wajah Oase yang sedikit berseri.

“Ya ... semuanya masih berjalan normal. Aku berharap tidak ada yang akan mengacaukan musimku, kali ini!Karena jika musim dingin ini berubah, aku yakin semua dewa pasti akan menghakimiku!Jika kamu juga menyalahkan aku saat itu terjadi, aku akan membunuhmu!” Oase menoleh ke arah Namo dengan mata yang berubah menjadi biru.

“Ah, kau suka sekali bercanda. Bagaimana bisa di tempat umum kamu memperlihatkan mata birumu itu?Baiklah, aku tidak akan menyalahkanmu saat hal itu terjadi,” Namo mencoba mengelus punggung Oase, agar mata birunya menghilang.

“Aku serius dengan ucapanku!” Mata biru Oase pun menghilang.

“Kamu sangat mengerikan, Oase. Iya, aku juga serius!” Komentar Namo yang sebenarnya sedikit takut.

Di sisi lain Urvilla yang sudah ada di restoran itu selama tiga bulan, membuat semua dewa yang bekerja disana kebingungan. Selama itu tidak ada sama sekali tanda-tanda keistimewaan dari Urvilla, karena semenjak bekerja di restoran Urvilla tidak merasakan sedih, kesal dan marah sama sekali.

Diam-diam para dewa ingin mengikuti Urvilla saat kembali ke rumah, mereka sangat penasaran dengan Urvilla dari awal mereka bertemu, hanya saja Galen menghentikannya.

“Biar aku saja yang mencari tahu!” Galen membuat dewa yang lainnya bengong.

“Tunggu!Kamu tidak sedang mengambil kesempatan, kan?Kamu Dewa yang paling pendiam, urusan seperti ini, biasanya kamu malas untuk ikut campur, kenapa sekarang kamu menawaran diri?”Riko merasa ada yang aneh dengan Galen.

“Aku tidak tahu alasannya, hanya saja, sepertinya aku bisa menemukan informasi yang kalian cari.” Galen yang selalu bersikap tenang itu membuat dewa lain mengernyitkan dahinya. Tanpa menunggu persetujuan dewa lain, Galen memakai mantel dan juga syalnya, lalu keluar dari restoran untuk membuntuti Urvilla.

“Ada apa dengan Galen?Apa kamu sepemikiran denganku?”Riko bertanya kepada Tungga.

“Iya, dia sedikit aneh.” Jawab Tungga.

Mereka berdua melihat Galen berjalan jauh lalu menghilang dari pandangan mereka, tiba-tiba saja saat berbalik, Anke berada di depan mereka.

“Astaga!” mereka berdua serentak terkejut.

“Kalian serius sekali?” tanya Anke.

“Ya Tuhan, kau datang seperti hantu. Aku dan Tungga sedang melihat Galen, sikapnya agak aneh hari ini. Dia menawarkan diri untuk mencari tahu tentang ... ” komentar Riko terputus ketika dia hampir keceplosan dengan rencananya untuk mengikuti Urvilla.

Anke tersenyum, “Urvilla?” sahutnya.

“Hehehehe ...” Riko tersenyum nyengir.

“Kalian ini memang tidak pernah sabar, dia tidak aneh, kurasa takdir itu sudah berjalan.” Anke langsung berbalik meninggalkan mereka.

Tungga dan Riko bengong mendengar apa yang sudah di katakan Anke, “Takdir sudah berjalan?” mereka mengucapkan dengan serentak.

Mata Riko tiba-tiba terbelalak, “Apa pemikiranmu sama denganku?” tanya Riko kepada Tungga.

“Kurasa iya, aku masih tidak percaya. Kita tidak bisa menyimpulkan terlalu cepat,” Tungga melipat tangannya kembali melihat keluar restoran.

Galen sampai di depan rumah Urvilla, dia benar-benar mengikutinya tapi tidak untuk sekedar melihat, Galen dengan berani mendekati Urvilla.

“Urvilla!” panggil Galen mencegah Urvilla untuk membuka pintu rumahnya.

Dia, pria bermata biru itu kan?Dia memanggilku?Di restoran saja, dia sangat pendiam, bagaimana bisa dia berbicara padaku sekarang? Urvilla sedikit heran tapi dia memutuskan untuk menjawab panggilannya.

“Hai,” Urvilla hanya bisa menyapanya begitu karena dia belum mengetahui namanya. Selama tiga bulan, sesama karyawan jarang bertegur sapa, bahkan tidak ada waktu untuk saling berkenalan sejak pertama kali berjumpa dengan mereka karena restoran itu sangat sibuk dengan pengunjung yang tidak berhenti berdatangan.

Galen yang bertubuh tinggi itu berjalan mendekati Urvilla dengan langkah perlahan, “Apa kamu bisa mengantarku ke supermarket?” pertanyaan Galen membuat Urvilla mengernyitkan dahi.

Apa dia sedang mengajakku pergi?Dengan tiba-tiba? Setelah sedikit berfikir Urvilla tersenyum, dia mengiyakan pertanyaan Galen dengan menganggukkan kepalanya. “Tentu,”

Urvilla kembali memasukkan kunci ke dalam tas, mereka akhirnya berjalan bersama. Hening sesaat ketika mereka berjalan di tengah salju yang sedang turun.

“Sepertinya kita belum berkenalan secara langsung, namaku Galen.” Galen mencoba membuka pembicaraan.

“Galen? nama yang bagus. Aku yakin kamu sudah tahu siapa namaku?” jawab Urvilla dengan pertanyaan.

“Ya, kamu benar. Aku sudah tahu namamu, Apa kita bisa berteman setelah ini?” Galen seolah membuka ruang untuk lebih dekat dengan Urvilla.

“Ya, tentu. Kita sudah menjadi teman kerja, walaupun kita tidak pernah saling menyapa, karena terlalu sibuk dengan pekerjaan di restoran.” ucapan Urvilla kali ini memang masuk akal.

“Apa kamu menikmati pekerjaanmu?”Galen mulai sesekali menoleh.

“Kurasa aku menikmati pekerjaanku, tidak banyak bicara sepertinya sangat membantu, karena aku bisa mengatasi kelemahanku, aku tidak mau kehilangan pekerjaan lagi!” mendengar ucapan Urvilla, membuat Galen semakin penasaran.

“Apa kelemahanmu bisa mengacaukan pekerjaan?” Galen mencoba mencari tahu.

“Bukan hanya pekerjaan tapi kehidupan juga,” jawaban Urvilla semakin membuat Galen ingin tahu lebih jauh.

Mereka sampai di Supermarket, Galen yang hanya beralasan, tetap membeli sesuatu di supermarket. Mereka berdua berkeliling, Galen mulai memilih beberapa barang lalu memasukkannya ke troly, Urvilla juga memasukkan sedikit makanan lalu memasukkannya ke dalam troly. Mereka berdua menuju ke kasir, Galen membayar semuanya.

“Jangan membuatku berhutang padamu!” ucap Urvilla ingin mencegah Galen.

“Aku tidak akan menganggap ini hutang, anggap saja ini hadiah untukmu.” Ucap Galen setelah berhasil memberikan uangnya kepada petugas kasir.

Mereka keluar dari supermarket setelah selesai berbelanja, mereka menggunakan jalan lain untuk kembali, baru beberapa langkah mereka berjalan. Tiba-tiba di jalanan yang sangat sepi itu mereka melihat seorang pria sedang memukuli seorang anak kecil dengan batang kayu hingga terduduk di pinggir jalan dengan berlumuran darah, pria itu seperti sedang waspada melihat kesekeliling tidak akan memperhatikan aksinya. Tanpa berfikir panjang Urvilla berlari mendekati pria itu, membuat Galen berteriak, "Jangan Urvilla!" lalu dia mengikutinya. Urvilla sangat emosi, dia mendorong pria itu hingga tersungkur ke tanah.

Galen terkejut saat melihat musimnya, salju tiba-tiba berhenti, petir menyambar sangat kencang, “Apa yang terjadi?” Galen bingung.

Pria itu masih bisa berdiri, “Jangan ikut campur dengan urusanku!” Pria itu melayangkan tinju ke arah Urvilla, Urvilla berhasil menangkisnya. Kali ini Urvilla benar-benar menghajar pria itu, petir sekali lagi menyambar dan hujan pun turun. Pria yang di hajar langsung lari terbirit-birit, Galen hanya bisa bengong, dia tidak hanya heran dengan keberanian Urvilla tapi dia juga heran dengan musimnya.

Tidak mungkin, musim salju akan berubah menjadi musim hujan dalam waktu secepat ini, apakah ini? bahyak pertanyaan berkecambuk di pikiran Galen.

“Dasar pria tidak punya perasaan!Memangnya urusanmu adalah membunuh anak kecil? pria itu sudah gila dia sudah membuatnya pingsan tapi masih memukulinya,” Urvilla langsung menggendong anak kecil itu ke dalam pelukannya ditengah hujan yang deras karena emosi Urvilla belum mereda.

Urvilla lupa jika kali ini ada yang melihatnya, dia menyadari musimnya berubah, Aku yakin ada banyak pertanyaan dikepalanya. Batin Urvilla

“Galen apa kamu bisa menyetop taksi, kita harus membawanya kerumah sakit!” ucapan Urvilla membuat Galen tersadar dari lamunannya.

“Ya, aku akan menyetop taksinya!” Galen langsung turun ke jalan.

Galen masih ragu dengan kesimpulannya, dia menunggu saat yang tepat untuk memastikan apa yang dilihatnya saat ini.

 

Part 6 : Titik Terang



Galen berhasil menyetop taksi, Urvilla dan dirinya masuk bersama dengan anak kecil yang sudah bersimbah darah. Galen terus melihat ke arah Urvilla yang basah kuyup melebihi dirinya, hujan sudah berubah menjadi gerimis tidak sederas tadi. Sepanjang perjalanan Galen melihat salju putih menghilang dari jalanan akibat hujan yang datang. Urvilla masih belum berniat bercerita dengan Galen hatinya masih khawatir dengan anak kecil yang mulutnya berdarah dan kepalanya terluka.

“Aku berharap dia selamat!Dia masih belum memiliki dosa, aku berharap Tuhan melindunginya!” ucap Urvilla membuat Galen terus memperhatikannya.

Beberapa menit kemudian Galen dan Urvilla sampai di halaman Rumah sakit, mereka langsung keluar dari taksi setelah membayar ongkosnya. Urvilla berlari dengan sangat cepat, mencari bantuan siapapun yang bisa membantunya.

“Suster!Suster tolong anak ini!Dia sekarat,”ucap Urvilla yang terus melihat darah bercucuran di pelukkannya bahkan sekarang sudah merembes ke baju basahnya.

Suster itu langsung menyediakan tempat tidur, lalu meletakkan anak kecil itu diatasnya, dokter dan suster mulai berdatangan lalu membawanya ke Instalasi Gawat darurat. Urvilla dan Galen akhirnya menunggu di ruang tunggu, Urvilla mulai kedinginan, dia mengambil obat pendorong hormon bahagianya untuk bisa menghentikan kebasahan yang terus keluar dari bajunya, dia lupa membawa baju ganti di dalam tasnya.

Galen masih terus memperhatikan Urvilla, “Apa kamu baik-baik saja?Apa yang baru saja kamu telan?” Galen terlihat penasaran.

“Obat pendorong hormon bahagia,”ucap Urvilla mulai menyandarkan tubuhnya.

“Kenapa kamu menelan obat itu?” tanya Galen sekali lagi.

Urvilla menghela nafas, “Ini adalah kelemahan yang kubilang tadi, setiap aku marah, aku emosi atau sedih, maka petir akan datang kemudian hujan turun, walaupun aku di bawah atap air akan terus keluar dari tubuhku, hingga membuatku basah seperti terguyur hujan deras. Aku harus meminum obat ini ketika aku sulit mengendalikan rasa sedih dan emosiku, agar hujannya berhenti dan aku tidak lagi mengeluarkan air di dalam tubuhku. Bodohnya aku, hari ini aku lupa membawa baju ganti. Sekarang kamu pasti menganggapku orang aneh?” Urvilla menoleh ke arah Galen yang mulai mengerti dengan perubahan musimnya.

“Jadi begitu, aku tidak menganggapmu orang aneh, aku melihatmu menarik dari awal kita bertemu di restoran itu.” Ucapan Galen membuat Urvilla tersenyum.

“Kamu hanya mencoba menghiburku, kan? kelemahanku ini beberapa kali membuatku kehilangan pekerjaan, karena aku selalu membasahi lantai restoran tempat sebelumnya aku bekerja, mereka melihatku aneh dan terus merundungku hingga akhirnya boss mengeluarkan aku. Astaga! kenapa aku jadi menceritakan semua padamu?”Urvilla tersadar jika dia sudah menceritakan sesuatu yang terlalu jauh tentang dirinya sendiri.

“Kamu bisa menceritakan keluh kesahmu mulai hari ini padaku, aku adalah temanmu sekarang di restoran, maupun ketika kamu berada diluar restoran.” Kali ini Galen benar-benar membuka peluang untuk dekat dengan Urvilla.

Urvilla tersenyum, “Terimakasih, kamu terlihat baik sekali.” Urvilla sedikit menggigil.

“Tunggu!Aku akan keluar sebentar!” ucap Galen yang langsung pergi meninggalkan Urvilla tanpa menunggu Urvilla menjawabnya.

Urvilla bingung, dia mau pergi kemana? Pikirnya.

“Udaranya sangat dingin, hujan sudah berhenti dan salju kembali turun. Aku lupa membawa baju ganti, ini adalah keteledoranku. Jika besok aku mendekam di rumah sakit, sepertinya itu sudah menjadi resiko,” Urvilla menggerutu pelan sambil sedikit mengibaskan bajunya yang basah.

***

Oase yang masih berada di atas jembatan bersama Namo sang dewa cinta mulai kesal, matanya kembali biru, walaupun hujannya sudah mereda dan saljunya kembali turun. Emosinya masih belum mereda.

“Tenanglah Oase, seperti yang aku bilang. Ini saatnya kamu bertindak!jangan marah!itu sangat berbahaya, carilah solusi, aku yakin pasti ada jawabannya.” Namo memberikan saran sambil terus mengelus punggung Oase agar emosinya mereda.

“Aku ingin kembali ke rumah dewa!” Oase langsung beranjak dari tempatnya lalu pergi dari atas jembatan itu, Namo yang ditinggalkan begitu saja akhirnya mengikuti Oase.

Dewa terbiasa dengan teleportase, sehingga tidak membutuhkan waktu lama untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.

Oase dan Namo sampai di ruang pertama rumah dewa, sepertinya semua dewa sudah tahu jika Oase akan datang.

“Bagus, kamu datang sesuai perkiraan.” Ucap dewa bumi.

“Kamu benar-benar sudah gila, mengubah musim sesuka hati apa maksudmu?” Dam sebagai dewa mimpi ikut kesal.

“Kamu mematahkan harapan banyak orang, mereka baru saja menikmati salju pertama, lalu tiba-tiba turun hujan. Jangan mengacaukan tugasku, Oase!” Biner sebagai dewa Harapan mengucapkan kekecewaannya untuk memperingatkan Oase.

Dewa lainnya mulai terdengar mengoceh, mata biru Oase masih belum menghilang, kali ini dia benar-benar sedang kesal. Musimnya kacau, dia kena marah semua dewa, Oase mulai mengepalkan tangan tanpa bicara sama sekali.

Namo yang ada di belakang Oase mulai memberi isyarat kepada semua dewa untuk berhenti memojokkan Oase, tapi mereka semua tidak paham. Oase melihat guci yang ada di samping kanan, dia menatapnya lalu tiba-tiba guci itu pecah,

"Pyar!"

Semua Dewa yang sedang riuh membicarakan Oase langsung diam, kemudian suasana berubah menjadi hening.

Nah kan, dia marah! Batin Namo yang gagal menghentikan para dewa untuk menekan Oase.

Oase tersenyum jahat, dia langsung menuju ke lantai dua dan meninggalkan para dewa yang baru saja menghakiminya.

Namo mencoba meluruskan segalanya yang terjadi.

“Kalian ini tidak bisa diam!Dia sedang kacau karena musimnya di kacaukan oleh orang lain, tapi dia tidak tahu siapa yang melakukannya, itu bukan kesalahannya!Kenapa kalian tidak mengerti isyaratku?”

“Bagaimana bisa bukan dia pelakunya?Hanya dia dewa yang bisa mengendalikan musim, jangan bercanda Namo!” komentar Dam.

“Dia pernah tidak bisa menghentikan hujannya dan aku melihatnya sendiri. Jadi tunggu semua ini mendapatkan titik terang," sepertinya ucapan Namo tidak di gubris bahkan terkesan diabaikan, semua dewa yang berkumpul, masih bergemuruh dan sepakat akan melayangkan protes kepada dewa ketua, supaya Oase di hukum.

Dengan tiba-tiba ada suara yang datang mengagetkan mereka semua.

"Kata Namo benar, kalian harus bersabar sampai ada titik terang. Karena kemungkinan perubahan musim akan terus terjadi tanpa prediksi. Itu kehendak langit bukan kesalahan Oase." penjelasan dewa ketua membuat mereka berhenti bergunjing.

"Terimakasih Dewa ketua, akhirnya mereka mau mendengarkanku," keluh Namo sambil Menghela nafas lega.

"Ada tugas yang harus kamu kerjakan pergilah ke tempat dewa pembaca, kamu akan mengetahui tugasmu disana!Biar mereka aku yang mengurusnya!" perintah Dewa Ketua.

"Baik Dewa ketua," Namo langsung menuruti perintah Dewa ketua, "Tumben sekali dewa ketua, mengingatkan tugasku?Oh, mungkin moodnya lagi baik."Namo masih melangkahkan kakinya menuju ruang Dewa Pembaca.

Oase telah sampai lebih dulu ke tempat dewa pembaca, mata birunya masih belum hilang, tanpa mengetuk pintu, Oase langsung membuka pintunya.

Dewa Pembaca yang masih berada di mejanya sedikit terkejut melihat siapa yang datang.

"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu sebelum masuk keruanganku?"Dewa pembaca menutup buku yang baru saja di bacanya.

Oase sudah berada di depan meja dewa pembaca sekarang.

"Aku sedang kesal, tidak ada waktu untuk mengetuk pintu. Aku butuh bantuanmu Dewa Pembaca!" sepertinya Oase tidak sabar untuk menemukan solusi dari masalahnya.

"Hilangkan dulu mata birumu itu! Jika kamu sampai mengacak-acak lemari buku karena mata birumu itu, kamu akan langsung dikirim ke mercusuar dan akan mendekam selamanya disana!"

"Baiklah," Oase menghilangkan mata birunya, "Sudah ku hilangkan, bantu aku mencari tahu siapa yang mengacaukan musimku hari-hari ini!"

"Aku harus membaca buku takdirmu, apa kamu tidak keberatan?aku tahu dewa sangat membenci hal itu, karena mereka jadi khawatir dengan tugas-tugas mereka nanti, apa kamu akan baik-baik saja?" Dewa pembaca memastikan.

"Jika hanya itu caranya, lakukan saja! Aku tidak mungkin membiarkan musimku di kacaukan lagi, itu juga akan membuatku di kirim ke mercusuar, jika terjadi kesalahan lagi." jelas Oase.

"Baiklah kalau begitu, aku akan mencari buku takdirmu dulu!" Dewa pembaca menaiki tangga yang tidak menapaki lantai, dia seolah terbang untuk mencari buku takdir Oase.

Dewa Pembaca akhirnya menemukannya, dia menuruni tangga lalu kembali ke kursinya. Setelah membuka beberapa halaman buku, Dewa pembaca bingung, Kenapa tidak ada kelanjutannya? Kenapa bagian setelah ini kosong? Bukankah takdir yang tertulis pasti sampai akhir hayat? Apa dewa takdir lupa menulisnya atau belum selesai?Aku tidak percaya Oase memiliki takdir seperti ini?Pikir dewa pembaca penuh dengan pertanyaan dikepalanya.

"Kenapa diam? Cepat bacakan!" Oase mulai tidak sabar.

Dewa pembaca menghela nafas, dia memutuskan untuk membaca sedikit hal penting sesuai dengan keperluan Dewa Oase. "Jika kamu ingin tugasmu tidak kacau lagi maka kamu harus menemui wanita ini, dia bernama Urvilla, kamu harus mencintainya, kamu akan bertemu dengannya seminggu dari sekarang, hanya dengan cara itu maka tugasmu akan berjalan dengan lancar." ucap Dewa pembaca.

"Menemui wanita bernama Urvilla?Harus mencintainya?Apa hubungannya, perubahan musim dengan wanita itu?Jangan bercanda!" Oase masih tidak percaya dengan apa yang di bacakan dewa Pembaca.

"Kamu pasti tahu, dewa tidak boleh berbohong, jika dewa melakukan kebohongan kamu tahu kan resikonya?Di kurung di mercusuar. Aku jelas tidak mau kesana, aku hanya bisa memberitahukan hal ini padamu, selebihnya kamu harus menjalani takdirmu, untuk menemukan jawabannya!" jawab Dewa pembaca meyakinkan Oase.

"Apa dia manusia?Jika dia manusia bukankah aku akan lenyap jika mencintainya?" Oase mulai khawatir.

"Aku tidak tahu, buku takdirmu agak aneh, dia tidak menjelaskan secara rinci, siapa Urvilla dan Urvilla manusia atau dewi, disini akhir ceritanya pun tidak ada, buku ini masih kosong di bagian belakang!" Dewa pembaca mencoba membolak-mbalikkan buku itu sekali lagi.

"Astaga!Masalah ini benar-benar membuat kepalaku pusing!Tidak ada cara lain, aku harus menemui Dewa Takdir, aku tidak habis pikir, buku takdir saja tidak ada kejelasan!" komentar Oase sedikit geram, Oase langsung pergi ke tempat dewa takdir di restoran itu dengan teleportasi tanpa berpamitan dengan Dewa Pembaca.

Beberapa detik kemudian, Namo datang ke ruangan Dewa Pembaca. 

"loh, dimana Oase?" Namo ,melihat kesegala arah tapi tidak menemukan Oase disana.

"Dia ke tempat dewa takdir," Dewa pembaca sedang mencari tahu tentang buku takdir Oase yang kosong.

"Astaga! Dia meninggalkanku. Dewa ketua bilang, ada tugas disini!Apa kamu tahu tugasku apa?" 

"Tugasmu mengikuti Oase ke tempat Dewa Takdir, disana kamu akan tahu tugasmu apa?"Dewa pembaca tidak menoleh sedikit pun untuk melihat Namo, dia masih serius membaca takdir dewa Oase.

Namo sedikit bingung,"Baiklah, Dewa terimakasih." akhirnya Namo pergi untuk menyusul Oase menggunakan teleportasi

 

Part 7 : Menjalani Takdir

Galen kembali ke rumah sakit, dia sudah membeli satu setel baju ganti dan dalaman untuk Urvilla lengkap dengan jaket musim dingin. Urvilla yang masih duduk di tempat yang sama akhirnya menoleh, ketika Galen datang.

“Gantilah bajumu dengan ini!” Galen memberikan satu kantong plastik hitam kepada Urvilla.

Urvilla menerima kantong plastik itu, setelah melihat isinya dia mulai merasa tidak enak, “Terimakasih banyak, kamu keluar hanya untuk membelikanku ini, Galen?” tanya Urvilla.

“Ya ... aku rasa musim dingin akan membuatmu masuk angin jika kamu masih memakai pakaian basah itu. Gantilah di kamar mandi!Aku akan menunggu anak kecil itu disini.”

“Baiklah, tunggu sebentar!” Urvilla bergegas menuju kamar mandi yang terletak tidak jauh dari tempat duduknya tadi.

Kamar mandi dalam keadaan sepi, Urvilla masuk ke salah satu kamar mandi. Dia mulai mengeluarkan pakaian dari satu kantong hitamnya, cukup terkejut ketika Galen membelikan setelan pakaian dalam yang pas dengan ukurannya. Apa dia sangat memahami wanita?Dia tidak melihat ukuranku dadaku, kan? Urvilla melihat ke arah dadanya sendiri. Setelah bercengkrama dengan dirinya sendiri Urvilla menanggalkan semua pakaiannya lalu segera mengganti dengan pakaian barunya.

Sepuluh menit kemudian, Urvilla keluar dari kamar mandi. Dia sudah merasa lebih hangat sekarang. Urvilla berjalan ke tempat duduknya yang tadi, “Apa sudah ada kabar dari dokter?” tanya Urvilla sambil memasukkan pakaian basahnya yang sudah di masukkan ke dalam kanton hitam ke dalam tasnya.

“Belum,” Galen menggelengkan kepala.

Hanya memakai pakaian seperti ini saja, dia kelihatan sangat menarik. Galen diam-diam mencuri pandang melihat ke arah Urvilla yang sudah memakai baju yang dia belikan.

“Ternyata, pakaian ini cocok untukmu.” Komentar Galen, membuat Urvilla spontan melihat penampilannya sendiri.

“Kamu pintar memilih ukuran terimakasih, bagaimana kamu tahu ukuran tubuhku?” Urvilla penasaran.

“Aku hanya mencoba menebak dan sedikit memperkirakan ukuran bajumu, maaf jika dalamannya tidak pas, aku menyerahkan hal itu kepada karyawan toko. Aku bilang sesuaikan saja dengan bajunya!” penjelasan Galen membuat Urvilla mengerti.

“Ah, tidak apa, kamu sudah membelikan aku baju, aku sangat bersyukur, kebetulan semuanya pas sesuai ukuranku. Karyawan toko itu sepertinya sangat paham dengan ukuran wanita,”

Tiba-tiba pintu IGD terbuka, dokter keluar dari sana, Urvilla dan Galen spontan berdiri untuk menemui dokter.

“Apa kalian wali dari anak ini?” tanya dokter itu.

“Iya, kami walinya,” tanpa berfikir Urvilla langsung menjawab, Galen hanya tersenyum menuruti Urvilla di sampingnya.

“Untung kalian segera membawanya kemari, tadi dia dalam keadaan kritis, terlambat sedikit saja, mungkin nyawanya tidak tertolong lagi. Dia akan segera dibawa ke ruang rawat khusus anak, kalian bisa urus administrasinya. Aku rasa dia akan lama tinggal disini karena sekarang dia mengalami koma,” jelas dokter itu.

“Terimakasih dok,” jawab mereka berdua.

“Baiklah, aku ada pasien lain, aku tinggal dulu.” Dokter itu berlalu begitu saja.

Urvilla dan Galen menganggukkan kepalanya.

“Kita harus bagaimana sekarang?kita harus menemukan keluarganya, kasian sekali anak kecil itu.” keluh Urvilla.

“Setelah dari Administrasi, kita akan pikirkan caranya mencari keluarganya, aku rasa rumahnya tidak jauh dari kejadian tadi. Kita coba memeriksanya,” Galen memberi saran.

Urvilla mengangguk, dia dan Galen menuju ke ruang administrasi.

“Aduh, maafkan aku, aku hanya punya uang segini,” Urvilla mengeluarkan uang dua lembar dari dalam dompetnya.

“Biar aku saja,” Galen mengeluarkan kartu birunya.

Pembayaran Administrasinya pun lunas.

Anak kecil itu sudah berada di ruang rawat, Galen dan Urvilla menuju ke ruang rawat untuk melihat kondisi anak kecil yang koma setelah menyelesaikan administrasinya.

***

Oase sudah sampai ke ruangan Anke di restoran, Anke terlihat sedang bersantai diruangannya sambil menyesap rokok di mulutnya.

Setelah Oase datang.

“Ternyata kamu datang lebih cepat dari dugaanku,” ucap Anke sambil melepas rokok yang ada di mulutnya.

“Kamu pasti sudah tahu takdirku, kan, Anke?Bisa-bisanya takdirku tidak jelas dan masih kosong di beberapa lembar terakhir?” Oase yang tanpa basa-basi itu langsung mengucapkan tujuannya.

“Takdirmu memang sedikit aneh, aku pun bingung, aku tidak tahu akhir dari takdirmu akan seperti apa?” ucap Anke menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.

“Lalu?Aku benar-benar harus mencintai wanita itu?Baru musimku tidak akan berubah lagi?” Oase mengernyitkan dahinya cukup bingung dengan kenyataan ini.

“Salah satu caranya, hanya menjalani takdirmu. Kamu sudah tahu kan, akan bertemu dengannya seminggu lagi?”

“Ya ... walaupun itu sebenarnya terlalu lama. Aku masih tidak paham apa hubungannya wanita itu dengan musimku yang berubah, terus aku harus mencintainya, jika dia manusia aku pasti akan lenyap. Sedangkan di buku tidak di jelaskan wanita itu manusia atau dewi. Apa takdir memang ingin membunuhku?” Keluh Oase menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal karena terlalu pusing.

“Aku tidak bisa mengubah takdirmu, karena itu kehendak langit, tapi aku bisa mempercepat waktunya jika kamu mau. Saranku jalani saja takdirmu itu, kamu pasti akan menemukan jawabannya. Jujur aku penasaran dengan akhirnya,”Anke membuat Oase sedikit berfikir.

Oase menghela nafas, karena tidak menemukan jalan keluar lagi, “Baiklah aku akan menjalani takdirku, aku setuju jika itu di percepat!”

Anke tersenyum, tiba-tiba Namo datang juga ke ruangan Anke.

“Kamu bisa-bisanya meninggalkanku, Oase! Hai Anke,” sapa Namo dengan senyum khasnya.

“Kebetulan yang bagus, Dewa cinta ada disini. Kalian berdua besok datanglah ke restoran ini, lewat pintu depan, aku yakin Namo akan sangat membantumu kali ini.” ucap Anke.

Namo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebenarnya apa yang akan aku lakukan?Apa tugasku? Namo masih tidak mengerti.

“Kamu sudah mempercepat takdir?” Oase memastikan.

“Sudah,” Anke menjawab dengan singkat.

“Baiklah, terimakasih.”

Oase dan Namo akhirnya memutuskan kembali ke rumah Dewa.

“Waktunya telah tiba, sepertinya natal tahun ini akan sangat berbeda dengan tahun kemarin. Tapi, aku suka kisah cinta yang manis,” Anke menyesap rokoknya lagi sambil mengepulkan asap ke udara sesekali.

***

Galen dan Urvilla sudah menjenguk anak kecil itu dari kaca karena dia masih koma, mereka hanya bisa melihatnya dari kaca.

“Malangnya nasib anak itu,” Urvilla mengelus kaca yang ada di hadapannya.

“Aku yakin dia kuat, dia bisa bertahan saja itu sudah bagus.” Sahut Galen.

“Benar juga ucapanmu,”

“Sebaiknya kita pulang, besok seusai bekerja kita akan mencari informasi tentang keberadaan orang tuanya!Aku takut kamu kelelahan jika sekarang kita mencari orang tuanya,” Galen memberi saran.

“Baiklah, kamu benar."

Galen dan Urvilla akhirnya pulang, Galen mengantar Urvilla sampai ke depan pintu rumahnya.

“Terimakasih bajunya, Galen.”

“Sama-sama, sampai jumpa besok Urvilla. Beristirahatlah!” Galen melambaikan tangan sebelum pergi meninggalkan Urvilla.

Urvilla membalas lambaian tangan Galen lalu berbalik dan membuka pintu rumah kontrakannya.

Galen juga kembali ke rumah dewa, semua para dewa dan dewi tinggal disana, ada sebagian yang tinggal juga di restoran. Sepanjang perjalanan Galen tersenyum membayangkan kebersamaannya dengan Urvilla hari ini, “Aku rasa aku tahu kenapa Anke memilihnya, dia memang spesial, tapi aku masih belum mengerti, dia ini manusia atau dewi?”

Ketika berbicara sendiri, tiba-tiba saja Anke berjalan disampingnya.

“Astaga!Anke?” Galen terlihat sangat terkejut tapi masih berjalan santai.

“Kamu membicarakanku, makanya aku datang.” Jawab Anke yang masij stay cool di sampingnya.

“Pasti ada yang ingin kamu bicarakan,” Galen sepertinya bisa menebak.

“Tepat sekali, aku yakin kamu sudah tahu apa yang spesial dari Urvilla.” Anke berhasil menebak karena dialah Dewa Takdir.

“Ya ... aku tahu.”

“Jangan beritahukan kepada siapapun!Karena besok adalah waktunya mereka melihat kenyataan. Kamu ada dalam takdirnya, jangan bertanya lebih jauh!Aku yakin sampai akhir kamu akan baik-baik saja.” Mendengar penjelasan Anke membuat Galen berhenti melangkah lalu menoleh ke arah Anke, dia masih diam dan tidak menjawab apapun.

Anke juga ikut berhenti, Anke menepuk pundak Galen, “Kamu ditakdirkan menjadi orang baik, Galen. Aku yakin kamu mengerti ucapanku, ayo kita pulang ke rumah dewa!”

Setelah Anke menepuk pundak Galen, mereka melakukan teleportasi untuk sampai ke rumah Dewa.

 

 Part 8 : Bertemu

Bhhb

Udara masih terasa dingin dan salju masih turun seperti biasanya, Urvilla sudah berada di restoran pagi itu. Dia sangat bersemangat membersihkan ruangan restoran.

Semua karyawan mulai berdatangan satu persatu. Ada beberapa dari mereka sudah mulai menyapa Urvilla.

"Hai Urvilla," satu pelayan bernama Nina masuk ke dalam restoran.

"Wah kamu rajin sekali," sahut yang lainnya lagi sambil masuk ke dalam restoran

Restoran pagi itu mulai siap di buka, Oase sudah tidak sabar, dia datang sangat pagi tanpa Namo.

"Kenapa Anke menyuruhku lewat pintu depan?" Oase terlihat malas untuk masuk melalui pintu depan.

Oase pergi ke area bar, tanpa sadar Urvilla dan Oase berpapasan, setelah berpapasan Oase merasa ada yang aneh, lalu spontan dia menoleh ke arah Urvilla.

Aku merasakan ada hawa berbeda di wanita itu, dia juga tampak asing di restoran ini, apa dia baru? Batin Oase dalam hati, dia memutuskan untuk kembali menoleh ke meja bar dan memesan kopi.

"Nin, aku pesan kopinya satu!" ucap Oase yang memang sudah mengenal beberapa karyawan disana termasuk Nina seorang bartender wanita yang juga merupakan dewi.

"Oh, kak Oase. Tumben sekali mampir kesini?Apa ada urusan dengan Anke?" Nina yang baru saja menoleh langsung membuatkan pesanan Oase.

"Aku disuruh kesini lewat pintu depan oleh Anke. Tapi aku tidak tahu apa maksudnya, aku juga sedang menunggu Namo." jawab Oase melihat kecekatan Nina saat meracik minuman.

"Oh begitu, Ini, kak kopinya!" Nina meletakkan cangkir kopi di hadapan Oase.

"Terimakasih," Oase yang tergugah selera saat mencium aroma kopi langsung menyesapnya perlahan.

"Wah, kamu hebat meracik kopi ini, sangat enak." puji Oase.

"Ahh, terimakasih, kak. Itu resep baru, aku baru saja membuatnya kemarin, syukurlah jika kak Oase suka." jelas Nina sedikit bangga dengan hasil racikannya.

Tiba-tiba Namo muncul dan menepuk pundak Oase yang sedang menikmati minumannya.

"Darr!" Namo mencoba mengagetkan Oase, Oase yang terkejut malah menjatuhkan bibirnya ke minuman kopinya yang masih panas.

Oase mengangkat bibirnya, dia langsung mengambil tisu yang ada di sebelah kanannya, "Apa kamu tidak bisa melihat, aku sedang minum? Panas!" Oase mengusap bibirnya dengan tisu berharap rasa terbakar itu mereda.

"Ahh, maaf, maaf aku tidak melihat." Namo mendadak panik, dia mengambilkan tisu lagi untuk Oase.

"Kamu ini ... iya aku maafkan." rasa terbakar itu mulai sedikit menghilang.

"Hei, ceritakan padaku! Apa yang dibicarakan dewa pembaca kemarin? Apa dia sudah membacakan takdirmu?Apa kamu sudah tahu orang yang mengacaukan musimmu?" beberapa pertanyaan mulai menghujani Oase.

"Astaga banyak sekali pertanyaanmu?" Oase kembali menyesap kopinya.

"Karena tugasku berkaitan denganmu. Aku bingung, tugasku apa? Kemarin Anke mengatakan jika aku akan sangat membantumu hari ini, aku melakukan apa? Makanya ceritakan padaku, sekarang!"

"Baiklah, aku akan menceritakan kepadamu!Walaupun sebenarnya aku malas membahasnya!" Oase mulai clingak-clinguk melihat ke segala arah, berharap tidak akan ada satu orang pun yang mendengarkan ucapannya. 

Oase menceritakan semuanya dari pertemuannya dengan dewa pembaca maupun dengan Anke.

Namo tiba-tiba terkejut, "Apa?Kamu harus men--" Namo tiba-tiba berbicara dengan suara sedikit keras membuat Oase langsung membekap mulutnya sebelum kalimatnya selesai.

"Hah, kamu ini, kenapa berbicara keras sekali?" semua orang spontan menoleh ke arah mereka berdua tapi Oase mampu meredam pikiran mereka lalu kembali berbalik.

Namo memukul tangan Oase agar dia melepas bekapannya, Akhirnya Oase melepasnya, "Hah, maaf, maaf, habis aku syok mendengarnya. Takdirmu memang sedikit aneh, Bagaimana bisa mencintai wanita bisa menghentikan perubahan musim yang kacau ini?Semua ini tidak masuk akal."

"Kamu tahu kan sekarang, bagaimana bingungnya aku?Anke telah mempercepat waktunya, lalu tiba-tiba menyuruh kita berdua ke restoran ini melalui pintu depan, sebenarnya apa yang dia rencanakan?" Oase masih belum mengerti.

"Tunggu!Aku mulai mengerti tugasku apa," Namo membalikkan badan untuk melihat kesekeliling.

"Memang apa yang akan kamu lakukan?" Oase masih menghadap meja bar sambil menghabiskan kopi di hadapannya.

"Setidaknya, jika kamu ingin tahu siapa wanita itu, seorang manusia atau dewi, kamu harus menemuinya. Apa wanita itu ada di tempat ini, ya?" Namo mencoba menganalisa.

Namo adalah dewa Cinta yang bertugas menyatukan setiap hati manusia dan hati setiap dewa, dia tahu dimana benang terulur dengan pasangan sejati mereka, tugasnya adalah membuat kisah cinta menjadi berwarna, bahkan dia bisa membuat sebuah pertengkaran, kesalahpahaman yang berujung pada kisah cinta yang romantis. Namo tidak hanya menyatukan hati manusia dengan pasangan mereka tapi dia juga menyatukan ikatan hati antara orang tua dan anaknya, ya tugasnya adalah membuat cinta itu tumbuh sesuai takdir mereka.

Mendengar ucapan Namo, Oase baru sadar, "Oh iya, pantas saja Anke bilang begitu, ini kan memang tugasmu. Apakah itu berarti kamu tahu, dimana wanita itu?" Oase mulai kepo melihat Namo sedang serius menganalisa setiap orang yang duduk di sana.

"Kurasa aku tahu, tapi aku tidak bisa memberitahukan kepadamu. Yang bisa aku lakukan adalah mendekatkanmu dengan caraku! Berikan tanganmu!"

Perintah Namo tiba-tiba membuat Oase menuruti apa yang Namo perintahkan tanpa bertanya sama sekali, setelah tangannya sudah ada di genggaman Namo, dengan kasar Namo menariknya, kebetulan sekali Urvilla sedang lewat membawa nampan berisi minuman, melihat ada orang dihadapannya Oase terkejut tapi dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya dari kursi, hingga membuat Oase terjatuh dan menimpa tubuh Urvilla di hadapannnya. 

"Pyar!" Suara gelas yang pecah membuat semua orang menoleh.

Namo tersenyum, sepertinya berhasil. ungkapnya.

Mendengar suara gelas yang terjatuh membuat semua orang mulai berkumpul melihat kejadian di dekat bar.

Mata Oase bertemu dengan Urvilla, jantung mereka sama-sama berdebar karena sekarang Oase ada di atas Urvilla namun sayangnya, keadaan tidak seromantis di drama korea, Urvilla menyadari apa yang di pegang pria dihadapannya saat ini, dia melihat ke arah dadanya. Oase pun sadar, ada benda kenyal yang menyapa tangannya. Oase hanya melotot sesaat lalu, Urvilla berteriak.

"Arrggghhhh!!!" Urvilla yang berteriak membuat Oase ikut berteriak, "Arrgghhhh!!" Oase membanting tubuhnya ke samping dan Urvilla langsung bangun menyilangkan kedua tangannya ke dada.

Oase ikut berdebar melihat kedua tangannya dengan wajah bingung, semua dewa berkumpul melihat kejadian itu. Urvilla dan Oase kembali saling menatap setelah keduanya duduk, Urvilla mulai emosi, dia menatap Oase dengan perasaan kesal, mencoba mengendalikan dirinya tapi tidak bisa, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung dan petir menyambar. Oase bingung melihat musimnya.

Musimnya berubah? ucap Oase sembari melihat ke arah luar jendela dari posisi yang sama.

waktu itu Namo dan semua dewa pun terkejut dengan apa yang terjadi, mereka sekarang fokus melihat musimnya, tapi mata Urvilla tidak berpindah menatap Oase yang membuat dirinya merasa di lecehkan. Oase yang sadar di perhatikan kembali melihat mata Urvilla, Tiba-tiba saja ...

"Plak!"

ketika tamparan itu mendarat di pipi kiri Oase, semua dewa kembali menatap ke arah mereka berdua. lalu tiba-tiba saja hujan turun. Oase memegangi pipinya yang memerah, dia bingung harus marah atau bagaimana karena dia sedikit jengkel karena musimnya berganti tanpa perintahnya tapi wanita di hadapannya saat ini seperti sedang meminta pertanggung jawabannya karena memang dirinya sadar melakukan kesalahan.

"Dasar pria mesum!Kamu tidak minta maaf malah menatap keluar?Apa kamu terbiasa melecehkan wanita?Aiss tubuhku kembali basah, kau ini benar-benar menjengkelkan!"Urvilla mencoba berdiri setelah menggerutu karena kesal.

Sekarang semua orang di tempat itu menatap ke arah Urvilla termasuk Oase yang ikut berdiri, karena Urvilla terlihat basah kuyup padahal dia berada di bawah atap. Anke keluar dari ruangannya, dia mengisyaratkan untuk restoran ditutup dan memerintahkan semua pelanggan untuk keluar.

Bagaimana bisa dia basah seperti kehujanan?Tapi dia berada di bawah atap? Oase mulai menganalisa, Apa jangan-jangan wanita ini adalah wanita yang bernama Urvilla?Apa mungkin ini adalah alasannya, kenapa wanita ini berhubungan dengan musimku yang berubah? Oase langsung menatap ke arah Namo seperti meminta penjelasan. Namo paham dengan tatapan Oase, dia hanya menganggukan kepalanya. 

Para Dewa dan Dewi mulai bergunjing, mereka mulai menyadari keistimewaan dari Urvilla.

"Aku mulai paham kenapa dia bukan manusia biasa," ucap Riko yang akhirnya sadar.

"Ya, aku jadi paham sekarang," Sahut Tungga.

Wah ... sepertinya pria ini tidak punya rasa bersalah! Urvilla masih terlihat kesal ketika Oase malah mematung melihatnya. Tiba-tiba Galen melepaskan jaketnya lalu mendekat ke arah Urvilla, dia memakaikan jaket itu dari belakang Urvilla membuat semua orang disana semakin heran, Urvilla yang tampak terkejut menoleh ke arah Galen.

Dia menjagaku lagi, batin Urvilla.

Galen yang masih meletakkan tangannya di kedua pundak Urvilla, mulai mendekatkan kepalanya kearah telinga Urvilla, "Aku tahu kamu pasti akan sakit, jika kembali basah seperti ini." 

"Terimakasih, Ayo kita pergi dari sini!Sepertinya pria ini sudah biasa melecehkan wanita, dia tidak punya rasa bersalah sama sekali!" Urvilla dan Galen berjalan meninggalkan Oase yang masih bengong disana.

Tiba-tiba Oase tersadar, "Berhenti!" Ucap Oase masih berada di tempat yang sama. Dia sepertinya memahami sesuatu.


Part 9 : Aku Tahu


Urvilla dan Galen berhenti, secara bersamaan Urvilla dan Galen menoleh, Oase mendekati Urvilla, aku harus memastikan sesuatu, sekarang! ucap Oase dalam hati sembari melangkahkan kakinya dengan sangat cepat, dia meraih belakang kepala Urvilla dan langsung mencium bibirnya. 

"Cup" mata Oase terpejam.

Urvilla sangat terkejut, diluar prediksinya, ciuman pertamanya di ambil oleh orang yang baru saja bertemu dengannya. Para Dewa tercengang, mulut mereka tiba-tiba menganga tanpa alasan, tepat saat itu Sanya, Vata dan Auris bergabung dan melihat kejadiannya. Mereka ikut tercengang.

Wanita itu?Oase? Sanya tampak emosi melihat kejadian hari ini, dia sudah mengepalkan tangan.

Galen merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya, Kenapa rasanya sangat sakit melihat mereka? tanya Galen dalam hati.

Namo memperhatikan orang-orang di sekitar yang berkaitan dengan Oase hari ini, Sepertinya akan ada kisah cinta yang rumit disini. Aku baru tahu Oase tipe pria yang romantis. Namo tersenyum geli. Tiba - tiba saja Anke sudah ada di samping Namo,

"Kamu pantas mendapatkan gelar Dewa Cinta, kerjamu sangat bagus!" puji Anke yang tersenyum melihat pemandangan yang indah itu.

"Astaga!Anke?Kau mengejutkanku," Namo memegang dadanya, setelah mendengar suara Anke disampingnya.

"Terus awasi kisah cinta mereka ya!Aku benar-benar penasaran akhir cerita mereka," ucap Anke.

"Baiklah, aku pastikan mereka akan menjalani kehidupan romantis." Namo mengatakan dengan penuh keyakinan.

Urvilla yang terkejut dengan ciuman dadakan Oase semakin emosi, dia mendorong Oase. 

"Apa yang kamu lakukan?" Bentak Urvilla sembari mengusap kasar bibirnya yang baru saja di cium oleh Oase.

Pria ini benar-benar kurang ajar, bisa-bisanya dia mengambil ciuman pertamaku, dia ini sangat menjengkelkan! batin Urvilla terlihat geram.

Petir menyambar semakin keras, hujan pun turus semakin deras

Oase yang terdorong, membuka matanya, terlihat mata birunya memandang Urvilla. Urvilla sangat terkejut ketika melihat Oase bermata biru sekarang. Tiba-tiba saja Urvilla memperlihatkan mata berwarna hijaunya. Membuat semua dewa terkejut sekali lagi.

"Lihat! Matanya berwarna hijau," banyak dewa membicarakan mata Urvilla.

Akhirnya aku tahu siapa pengacau musimku, mata berwarna hijau berarti dia adalah manusia setengah dewi. gumam Oase sambil terus memandang kilau mata Urvilla.

"Aku ada urusan yang harus ku selesaikan denganmu!" Oase masih memandang Urvilla dengan mata birunya, tandanya dia kesal.

"Astaga, dasar pria gila! kita baru saja bertemu, tiba-tiba kamu bilang punya urusan denganku, apa itu masuk akal?" mata hijau Urvilla masih belum menghilang.

"Tidak usah banyak bicara, Ikut saja denganku!Kita selesaikan urusan kita di luar!" Oase tiba-tiba menarik tangan Urvilla dengan paksa untuk ikut dengannya.

"Kau ini pemaksaan sekali, aku tidak mau. Lepaskan!" Urvilla masih menahan diri untuk tidak di tarik dengan paksa, mata Urvila melihat ke arah segelas jus jeruk di atas meja, Urvilla menariknya dari atas meja, melihat Oase yang terus menariknya. Spontan langsung mengguyur jus jeruk tepat di wajah Oase.

"Byur!"

Namo dan Anke langsung terkikih, begitu juga dengan dewa lain, ini kejadian pertama, ada seorang dewa di lempar jus. Para Dewi mulai menaikkan alis. 

"Wanita itu berani-beraninya menyiram Oase dengan jus, memangnya dia siapa?" Auris mulai berkomentar tidak terima.

"Brengsek wanita itu, dia mendapatkan ciuman Oase dan sekarang malah melemparnya dengan jus jeruk, dia benar-benar memberi sinyal persaingan." tiba-tiba mata Sanya berubah menjadi merah.

Vata di sampingnya mengelus pelan punggung Sanya yang sedang terbakar api cemburu, "Tenanglah Sanya, dia hanya manusia setengah dewi. Dia bisa ditahklukkan tanpa tenaga yang berlebih." komentar Vata sedikit masuk akal membuat Sanya menghilangkan mata merahnya.

"Tapi dia juga menarik hati Galen, kalian tahu betapa aku menyukai dewa pendiam bermata biru itu?" Yuka juga terlihat geram, dia menampilkan mata berwarna merah kehitaman.

"Hiss, wanita itu memang tidak bisa di biarkan!Setelah ini kita beri dia pelajaran," ucap Auris.

Oase tersenyum sinis tidak percaya dengan yang dialaminya saat ini. "Kau berani mengguyur dewa musim?" Oase semakin marah. Mata birunya menajam.

"Dewa Musim?hahahaha" Urvilla langsung tertawa terpingkal-pingkal. membuat seiisi restoran itu terdiam. "Aku tidak percaya orang mesum sepertimu menyebut dirimu dewa," Urvilla memang belum menyadari ada darah dewi di tubuhnya.

"Kau?" Oase menahan amarahnya, dia tidak mau masuk ke mercusuar lagi.

"Karena kamu aku jadi basah dan kedinginan, aku benar-benar membenci situasi ini!" Urvilla langsung pergi meninggalkan Oase disana.

Galen tidak mengikuti Urvilla, entah mengapa dia masih bertanya-tanya tentang situasi di depan matanya. Sepertinya ada yang aneh dengan mereka berdua?

Urvilla sampai di ruang ganti, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian kering, masih menggunakan kostum pelayan. Urvilla segera meminum obat pendorong hormon bahagianya. Dia menatap ke kaca, melihat bibirnya yang sedikit bengkak karena ulah Oase.

"Bagaimana caranya aku bisa meredakan amarahku jika aku mengingat pria itu, aku menjadi sangat emosi?" tiba-tiba saja dia melihat sendiri mata berwarna hijau itu muncul dihadapannya saat ini.

Urvilla terkejut, dia sedikit mundur, "Aku bermata hijau?Mata apa ini?Aku merasa selama hidupku tidak pernah memakai lensa kontak?" saat amarahnya sedikit mereda mata hijau itu menghilang. Urvilla semakin bingung melihat keadaannya saat ini.

Disisi lain Oase masih dengan mata birunya terlihat kesal, "Arrgghh, wanita itu!Aku benar-benar ingin membunuhnya!" Dua meja dan satu kursi akhirnya patah begitu saja di depan matanya.

Namo langsung mendekati Oase, "Tenanglah Oase!Dia hanya wanita, dia hanya terkejut karena tadi kamu--"

"Apa?Ini semua gara-gara kamu, Mo. Kenapa kamu mempertemukanku dengannya dengan cara seperti itu?" Oase memutus kalimat Namo, dia melihat Namo jadi tambah kesal.

"Maafkan aku, aku akan bertanggung jawab!" ucap Namo merasa bersalah.

Anke tersenyum memandang Oase, "Kalian berdua ikutlah keruanganku!" Anke langsung menghilang dan menuju ke ruangannya.

Oase dan Namo akhirnya menyusul.

***

Di ruang ganti 

Nina tiba-tiba saja muncul untuk menemui Urvilla, "Apa kamu baik-baik saja?"tanya Nina mendekati Urvilla yang masih syok melihat matanya yang berubah hijau tadi.

"Ya, aku baik-baik saja." jawab Urvilla sedikit berbohong.

"Sepertinya raut wajahmu tidak berkata begitu, Pegang tanganku!Aku harus memberitahukan banyak hal padamu!"

Urvilla menuruti ucapan Nina, tanpa sadar Nina membawanya ke sebuah taman kecil di dekat danau.

Urvilla semakin bingung, dia melihat ke kanan dan kekiri, "Se-sebenarnya, kamu ini siapa?" Urvilla sedikit takut.

"Kamu tidak perlu takut, aku adalah dewa pelindung manusia. Aku tidak akan jahat padamu, aku akan menjadi temanmu sekarang. Duduklah!" Nina duduk diatas rerumputan sambil memandang danau di depannya.

Mendengar hal itu Urvilla masih bingung, dia mencoba mencerna dengan akal sehatnya. Aku tidak percaya dengan semua yang ku lihat di depanku saat ini, apa ini mimpi? tanya Urvilla dalam hati.

"Aku tahu kamu bingung dan merasa aneh dengan semua yang kamu lihat saat ini, aku perlu memberitahumu, kami semua yang ada di restoran itu adalah dewa. Manusia hanya mereka yang datang untuk berkunjung ke restoran kami," mendengar penjelasan Nina, Urvilla semakin bengong, dia menepuk pipi kanan dan pipi kirinya berulang kali.

 

Baca kelanjutanya disini!

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA!

Nikmati membaca lebih nyaman dengan download aplikasi Innovel hanya di playstore

DOWNLOAD APP INNOVEL

Setelah download kalian bisa tulis nama penaku Valen Ash di kolom pencarian







Comments

Popular Posts