Kakak Kelas Jahat itu Suamiku
Bab 1 : Pertunangan Dadakan
Pertemuan di pesta itu sungguh tidak pernah aku harapkan, setelah lima tahun aku tidak pernah lagi bertemu dengan Edwin dan itu adalah Anugrah terbesar yang pernah aku terima. Tapi hari ini mengapa harus bertemu dengannya lagi??
'Aku merasa petir akan menyambar dihadapanku hari ini, apa yang sebenarnya dipikirkan keluargaku? Hingga aku harus ikut dalam pertemuan ini, benar-benar malas aku bertemu dengannya.'
Piona bergumam sendiri sambil meminum segelas orange jus.
'Kalau saja orang tuaku tidak berteman dengan orang tuanya dan kalau saja ekonomi keluargaku tidak di ujung tanduk aku tidak akan mau datang ke pesta ini. Aku terpaksa bersikap baik dengan keluarga Edwin hanya demi bantuan itu tidak lebih, tapi aku curiga ada hal lain yang direncanakan orang tuaku'
Suara mobil mewah di depan sudah terdengar dan ada seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan lengkap dengan jas dan kaca mata hitamnya.
"Itu Edwin" Kata Tante Marta mama dari Edwin
"Wah gantengnya, habis dari mana edwin jeng?" Mama Piona menjawab antusias
"Pulang dari Amerika jeng ratna, gimana sudah besar kan anakku?" Tante Marta mendekati Edwin dan mencium pipi anak itu,lalu edwin bersalaman dengan mama Piona
"Edwin tante."
"Ihh ganteng banget." Mama Piona mencubit pipi Edwin
Mata Edwin berkeliling dan melihat seorang wanita cantik dengah tubuh yang tinggi memakai gaun hitam dan dengan rambut ikalnya memegang gelas orange jus. Sudah pasti yang dilihatnya adalah Piona tapi edwin tidak menyadari itu. Spontan edwin mendekati Piona dan ...
Tangannya menyentuh pundak Piona, betapa kagetnya Piona saat berbalik dan melihat Edwin.
"Kamu!" Mereka berkata bersamaan dengan mata kaget.
"Wahh Ratu Kodok, mau apa kamu kemari?"Edwin masih menyapa dengan sebutan Ratu Kodok. Ratu kodok itu tercetus tepat ketika Piona terpaksa melepas lensa kontaknya dan menggantikan dengan kaca mata besar yang mirip seperti mata kodok ketika SMA
Piona mengernyitkan dahi serasa ingin menerkam, tapi raut wajahnya kembali tersenyum dipaksakan seolah ingin membalas Edwin dengan anggun.
"Wah manis juga ya sekarang, aku terkejut Ratu kodok kaya kamu bisa datang kepesta besar seperti ini?"Edwin mulai menyindirnya.
"Dasar pria sombong, bisakah semenit saja tidak memancing keributan?! " Piona sudah mulai geram
" Ternyata kamu masih sama ya dimasa lalu dan sekarang ? Nggak bosan jadi gadis emosian Ratu Kodok." Edwin membisikkan kata-kata ditelinga piona sambil tersenyum kecil.
"Berhenti memanggilku Ratu Kodok!" Piona menatap kearah Edwin dengan sinis.
Edwin sejak SMA memang terkenal sebagai pria kaya yang sombong dan sangat tidak berperikemanusiaan sikapnya judes dan tatapan mata yang selalu terlihat kejam, keseharianya disekolah adalah menyiksa,membully dan menindas orang lain. Walaupun dia menyiksa tidak dengan tangannya sendiri. Banyak wanita yang pernah dijahili bahkan sampai menangis, walaupun intensitasnya lebih banyak pria yang di buli tapi yang terparah disini adalah yang dialami Piona. Piona adalah satu-satunya wanita paling kuat dan paling berani menghadapi Edwin. Beribu-ribu kali edwin mempermalukan Piona di depan umum seperti mengguyur air comberan ketubuh piona saat ekskul seni, memberi permen karet di kursi atau mencuri pr Piona hingga dihukum guru untuk bersih-bersih kamar mandi bahkan membuat Piona sakit berhari-hari. Walaupun Piona itu adek kelas dimata Edwin tidak ada pengecualian dia menang dengan kekuasaan karena ayahnya seorang ketua komite sekolah saat itu sehingga tidak ada yang berani melaporkan perbuatannya. namun Piona selalu punya banyak cara membalas perbuatannya seperti merobek celana sekolahnya saat ekskul olahraga, melemparnya dengan balok es bahkan selalu berhasil menyelamatkan teman-temanya yang di fitnah dengan mulut bengisnya.
"Selamat malam para hadirin yang terhormat." Tante Marta memulai acaranya malam hari ini.
"Untuk mempersingkat waktu saja, acara ini kami mulai, karena kebetulan anak kami baru saja pulang dari amerika dan kebetulan hari ini anak kami yang bernama Edwin berulang tahun. Kita persilahkan edwin untuk maju kedepan meniup lilin dan memotong kuenya." tante Marta merangkul Edwin dan membantunya untuk memotong dan meniup lilin bersama suami dan anaknya itu.
' Ya Tuhan, norak sekali masih senang dengan kue ulang tahun.'
Gumam Piona memperhatikan Edwin yang memakan lahap kue ultahnya di depan panggung dengan mata sinis
Mata tante Marta tidak sengaja melihat Piona beranjak pergi, tiba-tiba tante Marta memanggil Piona keatas panggung
" Sini sayang, Piona. keatas panggung!!"
Mata Piona terbelalak kakinya tiba-tiba membeku seketika, bingung melihat kanan dan kiri tiba-tiba mata mamanya mengisyaratkan untuk segera naik ke panggung
'Kenapa perasaanku tidak enak ya ?'
Akhirnya Piona berjalan keatas panggung dan berada disisi tante Marta.
"Hari ini, kami juga akan mengumumkan pertunangan anak kami. Edwin dan Piona!"
Mata Piona dan Edwin bertemu, mereka sangat terkejut.
"PERTUNANGAN!!!!" Mereka berdua berteriak bersama.
Dalam sekejab seisi ruangan pesta itu menjadi hening.
" Edwin ini mama sudah belikan cincin, pakaikan sekarang dijari Piona!! Jika tidak mobil yang kamu beli barusan akan mama jual lagi" bisik tante Marta ketelinga Edwin lirih
" Tapi ma ?!"
" Edwin,mama serius !!" Edwin mengambil kotak cincin itu dan dengan terpaksa menurut perkataan mamanya.
" Piona sayang, kalau kamu mau hutang papa kamu kita lunasi dan agar perusahaan papa kamu tidak bangkrut. Kamu terima cincin pertunangan ini ya!! Dan pasangkan cincin itu ke edwin"
Bisik tante Marta dengan nada setengah mengancam
'Astaga apakah ini ancaman? apa-apaan ini. Aku sama sekali tidak bisa berlari dari tempat ini. Aku harus bagaimana?'
Piona kehilangan akal dan penuh dengan rasa kesal
Mata Piona menatap mata mama dan papa nya, didepan panggung mereka mengisyaratkan untuk menerima cincin pertunangan itu dengan perasaan gusar dan bingung akhirnya cincin itu di sematkan di jari Piona,
Semua hadirin bertepuk tangan
Dan mereka tersenyum berdua dengan terpaksa
"Menataplah kedepan dengarkan aku, ini yg kamu lakukan selama aku di amerika, dasar wanita kurang ajar berani-beraninya membuat pertunangan dengan ku hanya demi uang." kata Edwin sambil tetap senyum didepan tamu yang melihat mereka.
'Aku tidak bisa bohong, dia cantik. Maaf Piona aku masih tidak bisa jujur.'
Edwin terbiasa membuat Piona emosi dan marah tapi itu yang membuat hatinya tertarik
"Tutup mulutmu! jika tidak ingin aku lempar!!aku tidak serendah itu dan aku tidak sudi bertunangan dengan mu jika ibumu tidak mengancamku mengenai keluargaku"
Mereka berdua tetap menjaga senyuman yang terpaksa itu.
Pesta itu berakhir dan Piona mendapati orang tuanya sangat bahagia bahkan bercengkrama dengan ceria dengan mama dan papanya edwin. Piona begitu kesal dan benar-benar tidak terima dengan pertunangan ini.
Piona pergi kebalkon sembari menunggu keluarganya itu mengobrol dengan keluarganya Edwin.
Ternyata Edwin juga berada dibalkon tapi agak jauh dari Piona, Edwin melirik piona dengan tertawa kecil.
'Aku nggak ngerti kenapa Ratu Kodok bisa Secantik itu ya, dia sungguh berubah menjadi wanita cantik,kulitnya putih dan begitu mempesona dulu sepertinya sangat berbeda dia begitu culun. Apakah Tuhan memberiku kesempatan? Astaga apa yang kupikirkan?' Edwin memalingkan wajahnya kearah depan menatap pemandangan kota dan langit yang berbintang sembari menghabiskan anggur merah ditangannya
Piona tidak menyadari jika di balkon juga ada Edwin
'Aku sebel,sebel sebel' Kaki Piona mengertak kelantai dengan kesal.
' Kenapa harus dia yang jadi tunanganku?? Dan kenapa orang tua ku bersahabat dengan orang tuanya dan kenapa keadaan ekonomi keluargaku harus merosot.'gumam Piona dalam hati.
Piona melepas sepatunya dan bertelanjang kaki. Tiba-tiba seorang pelayan ceroboh menabraknya dan menumpahkan anggur merah kelantai. Piona terpeleset dan hampir terpelanting, melihat hal itu edwin berlari sekencang-kencangnya untuk menyelamatkan Piona agar tidak terjatuh dan terbentur kelantai. tubuh Piona spontan bersandar di lengan edwin, mata mereka bertemu lagi.
' Apa ini ?kenapa dia berbeda?mana tatapan bengisnya dan raut wajah yang paling aku benci? Kenapa dia berubah.'
Piona terkejut melihat edwin menolongnya
'Aku berharap jantungku tidak terdengar, Ratu kodok tidak boleh mendengarnya. Syukurlah dia baik-baik saja.'
Edwin mengalihkan tatapannya lalu membantu Piona berdiri. Piona juga tersadar dari lamunan nya dan merapikan gaunnya lalu pergi meninggalkan Edwin tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Hei jangan pergi ! Dasar wanita tidak tahu Terimakasih."teriak Edwin masih terengah-engah.
Kaki kecil Piona berlari, jantung nya berdetak kencang tidak terkontrol
'Tidak, tidak! aku berhalusinasi kenapa Edwin jadi pria baik, tidak,tidak! ini pasti mimpi kenapa wajahnya terngiang dikepalaku?'
Bab 2 : Pendekatan
bisa download di Google playbook ya guys
Bab 2 : Pendekatan
Berlari ketempat dimana orang tua Edwin dan orang tua Piona bertemu. Mereka bercengkrama dengan serius diruang keluarga rumah itu. Piona tertatih-tatih dengan kaki telanjangnya menuju ruangan itu. Ketika piona tiba mereka sejenak hening dan menyembunyikan segala barang-barang seperti figura dan brosur entah apa yang mereka lakukan.
'Kenapa rasanya ada rahasia di ruangan ini, kali ini apalagi yang direncanakan??'
Pikiranku sedang tidak terkontrol dengan pertunangan yang mendadak ini, melihat mereka hening membuatku ingin berteriak dan cukup marah.
"Tante,om,ma,pah bisakah memberikan aku sedikit bocoran apa yang mau direncanakan? Rasanya paru-paru ku sesak dan jantungku hampir copot karena pertunangan yang tidak masuk akal ini?!"
Piona menghela nafas panjang dengan emosi yang tertatahan
"Gini piona tante sama om dan orang tua kamu emang punya rencana " Jelas tante Marta.
Tiba-tiba dari belakang muncul edwin yang setengah berlari
" Tunggu!!!! aku juga harus tahu, ada rencana apa lagi ini ?"
' Aku mengerti sekarang, anak ini ternyata tidak terlibat dengan rencana pertunangan dadakan ini'
Edwin melirik ke wajah Piona
" Gini nak Edwin, tante dan om dan juga orang tua kamu punya rencana sebenarnya ini sudah di rencanakan sejak kalian kecil dan...." Mama Piona bingung menjelaskan bagaimana takut akan menjadi salah paham lagi.
" Begini pada intinya, kami ingin menikahkan kalian berdua. Selain untuk bisnis keluarga dan menyelamatkan aset keluarga Piona, sebenarnya pernikahan ini kami rencanakan sejak kalian kecil" tante marta menjelaskan dengan hati-hati tapi spontan.
" Apa?! MENIKAH?!" Piona dan Edwin bersamaan berteriak dan saling bertatapan satu sama lain
" Ma pah....batalkan rencana pernikahan ini ya? Aku dan edwin tidak saling mencintai Tolonglah ma!!!." Piona meringkuk dikaki orang tuanya memohon pernikahan ini dibatalkan
Begitu juga edwin
" Ma,pah...sudah jangan berbuat sembarangan lagi, ini bukan main-main pah ma. Tidak ada cinta dan ini demi bisnis apakah mama dan papa tega mengorbankan anaknya jadi seperti ini? "
Rengek Edwin bersujud di depan mamanya
" Jika yang kalian khawatirkan adalah Cinta dalam sebuah pernikahan hari ini mama, papa, tante ratna dan om dodi punya rencana B"
Mata tante marta memberi isyarat kepada mama piona
Dengan sigap mencengkeram lengan anak- anak mereka dan mereka di masukkan dalam satu kamar lalu di kunci dari luar.
" lohh, maa, kok dikunci ?? buka ma pintunya!!" Piona berteriak sambil menggedor nggedor pintu.
"Apa-apaan ini ma, pah, tolong jangan bercanda, maksud kalian apa ? " Edwin ikut menggedor pintu
" Bagaimanapun caranya kalian tetap harus menikah, kami sepakat membuat kalian jatuh cinta. tidurlah dikamar yang sama,pikirkanlah baik-baik. dalam waktu 3 hari kami akan mempersiapkan pernikahan kalian. Aku harap besok pagi kalian sudah menyerah dan berkata untuk menyetujui pernikahan ini"
" Tante marta,mama Piona nggak mau ma.....!!!." Piona menangis
"Sepertinya orang tua kita sudah kehilangan akal mereka" Edwin terduduk bersandar di pintu bersama piona
" Kenapa sih kamu nggak memberontak??kamu bisa kan mencongkel pintu ini ?kenapa kamu diam saja "
Piona memaki dan terus memaki edwin sambil terisak dan menangis
Edwin tidak tega melihat piona menangis, tangannya spontan membelai rambut panjang piona yang sedang menangis itu. Entah jarak mereka yang jauh berubah menjadi dekat ketika bahu edwin tiba-tiba bersiaga di samping Piona, tangan edwin meletakkan kepala piona kebahunya perlahan dan membelainya perlahan
'bahu edwin?dia bisa melakukan kelembutan seperti ini ?dia membelaiku? Apa yang dipelajarinya di amerika?' banyak pertanyaan tersimpan di benak piona
Debaran jantung ini tidak bisa tertahan lagi semakin kencang dan membuat ku berhenti menangis dan tersisa sesenggukan yang membuat dada semakin sesak, aku mulai terhanyut bersandar di bahunya serasa luruh begitu saja.
' Kenapa aku melakukannya ? Oh Tuhan apa yang terjadi padaku, tangisnya sudah berhenti apa yang harus kulakukan ?' Gumam edwin gelisah dan terus memikirkan sesuatu.
Suasana berubah menjadi canggung,tangisan itu berhenti tapi mereka sedekat itu. Aliran darah terasa mengalir dan semakin menghangat melalui pori-pori kulit mereka. Sejenak mereka lupa dengan apa yang sedang terjadi dan lupa bagaimana dulu mereka bermusuhan. Piona mengangkat kepalanya dari bahu edwin dan duduk bersebelahan dengan edwin, suasana semakin canggung. Dengan polos mereka berdua menoleh kearah yang bersamaan dan mata mereka bertemu lagi. Tidak ada yang terpikir saat itu suasana menjadi hening, tatapan mata itu begitu dalam dan mengisyaratkan sesuatu kemudian Jarak pandang mata itu semakin dekat, adrenalin mulai mengunci tiap energi untuk berkata - kata, mata mereka seperti magnet yang berbicara.
'Liar pikiranku sekarang, tidak.,.aku...tidak aku tidak bisa menahanya ' pandangan edwin berubah kebibir warna pink yang berada tepat didepannya. Bibir itu terasa memanggil hasrat nya untuk menyentuh dan menikmatinya sejenak.berulang kali edwin selalu menahan gejolak yang ada di dadanya saat ini.
'Kenapa tubuhku kaku dan tidak bergerak aku terus menatap mata edwin tanpa ada rasa ragu, ada apa ini? Tidak kenapa tidak bisa menahan jarak oh Tuhan tidak ' piona mencoba mengendalikan pikirannya dan tubuhnya.
Edwin mendekatkan bibirnya ke bibir piona,mata piona terbelalak ketika akhirnya bibir itu menyentuh dan melumat bibirnya perlahan dan perlahan, kemudian mata piona mulai tertutup sedikit demi sedikit dan tangan edwin meraih bagian telinga dan pipi piona. Piona pun terhanyut, tanpa sadar tangannya mulai melingkar di leher edwin dan mereka menikmatinya sangat lama.
Sampai akhirnya bibir edwin berhenti dan mereka membuka mata. Jarak pandang ini masih terlalu dekat, mereka menarik diri mereka masing-masing. Suasana semakin canggung karena perasaan tidak menentu dan detak jantung yang tidak beraturan itu.
Mereka duduk terdiam dengan jarak yang cukup jauh. Tanpa kata dan hanya merenungkan apa yang sedang terjadi.
"Maaf" edwin mencairkan suasana.
' kenapa maaf yang terpikirkan olehku'
"E...e..untuk apa ? " Piona bertanya seolah tidak mengetahui masalah apa yang terjadi saat ini.' bodoh kenapa aku bertanya?bukanya sudah jelas?' piona menggerutu dalam hatinya.
" maaf karena aku pernah berbuat jahat padamu dan membullymu hingga mungkin kamu membenciku sampai detik ini " edwin meluapkan segala yang ada dipikiranya dan akhirnya hal manis inilah yang keluar. ' sepertinya aku malah membahas masa lalu, edwin,edwin'
' aneh tapi nyata, pria bengis itu bisa mengucapkan maaf padaku' gumam piona dalam hati
"Lupakan!!! mungkin sudah waktunya kita melupakan hal itu" Piona spontan mengucapkan kata-kata ini
' apa yang terjadi piona ,kamu luluh ? Kamu memaafkannya? Oh tidak kamu berkata dengan cukup sopan'
piona tidak berhenti menggerutu dalam hatinya
Sudah pukul 12.00 mereka akhirnya lelah dan ingin beristirahat. Mereka menatap kesekeliling pikiran mereka berlarian kemana-mana
' tidak piona hanya ada satu ranjang, apa yang harus kulakukan? Jangan ' piona mencoba menghentikan pikiran nakalnya
'Tidak ada sofa, sepertinya dia takut melihat hanya ada satu ranjang saja' edwin bingung sendiri mencoba berfikir dengan jernih.
" maaf ternyata tidak ada sofa. Mungkin aku akan tidur di lantai saja masih ada selimut tambahan dilemari"
Edwin berinisiatif mencoba mencairkan kecanggungan ini.
"Ee. ....baiklah, aku akan kekamar mandi sebentar " piona masuk kekamar mandi yang ada dikamar itu.
Edwin sudah merapikan tempat tidurnya dilantai dan membersihkan ranjang yang akan dipakai piona.
Edwin mulai berbaring, mendengar piona selesai dari kamar mandi. Edwin pura-pura tidur
ternyata dia gampang tertidur juga' kata piona dalam hati.
Dengan spontan piona menaikkan selimut edwin agar menutupi tubuhnya itu dan berharap edwin tidak masuk angin karena tidur di lantai.
Piona berbaring di ranjang dan masih terjaga melihat langit- langit.
' kenapa masih saja tidak bisa tidur?'
Piona menarik selimutnya lagi, piona diam-diam memperhatikan edwin dari atas ranjangnya.
' kenapa terasa berbeda waktu itu dengan saat ini ? Dia memang tampan? Tapi melihat sikapnya saat itu membuatku muak, hanya saja sekarang terasa lebih dewasa dan dia manis saat tidur' piona tersenyum kecil
' apa yang kamu pikirkan piona' hatinya gusar dan mulai menggigit selimutnya.
' ciuman tadi juga ciuman pertama ku?! Kenapa dia yang mendapatkanya?' piona mengernyitkan dahi dan melirik lagi ke edwin lalu menutup mukanya dengan tangan dengan perasaan malu.
Edwin yang hanya pura-pura tertidur sadar dirinya diperhatikan sejak tadi. Ada senyum tersungging kecil di bibirnya. Edwin semakin membayangkan ciuman tadi dan wajahnya mulai memerah. Kali ini edwin tidak tahan untuk pura-pura tertidur lagi.
' hahahahha ' edwin terduduk dan tertawa membelakangi piona.
Piona terkejut dan melihat kearah edwin yang sedang terkikih geli tanpa alasan.
" maaf piona sepertinya aku tidak tahan lagi berpura-pura tidur. Kenapa kamu mencuri pandang menatap wajahku ? Apa kamu mulai sadar aku tampan?" masih tertawa kecil dan dia mulai tertawa jahil sambil membelakangi piona.
"apa an sih, nggak!! siapa juga yang ngeliatin kamu, PD banget sih kamu!" muka piona memerah dan membalikkan tubuhnya kearah yang lain.
" Hati-hati nanti kamu bisa jatuh cinta sama aku lo ?" edwin mulai menggodanya.
Piona terdiam mendengar perkataan itu dan tidak menjawab sama sekali.
edwin kembali terbaring dan menatap punggung piona dari bawah ranjang
' mungkin aku tidak akan menyesal menerima pertunangan dan pernikahan ini' edwin tersenyum kecil dan berkata dalam hatinya. Sambil menarik selimutnya dan bersiap untuk tidur.
Piona masih mencoba untuk tidur, tapi pikirannya kemana- mana. Piona menoleh ke arah edwin lagi.Melihatnya sudah tidur pulas.
' dia bisa-bisanya tertidur lelap, apa dia tidak berfikir jawaban apa yang harus dipersiapkan ketika tante marta dan mamaku tanya?'
' sudahlah, aku tidur saja !! Dasar pria aneh' piona akhirnya tertidur.
Bab 3 : Persiapan Pernikahan
Sekitar pukul 04.00 pagi
Seperti biasa Piona tertidur tapi akan berguling kesana kemari. Ini kebiasaan buruknya yang selalu bergerak ketika tertidur. Dan seketika itu
" brukk...." Piona jatuh dari ranjang
Tapi matanya tidak juga terbuka sama sekali, tanganya meraih sesuatu disampingnya dan memeluknya seperti guling Piona tidak menyadari itu Edwin. Edwin yang juga tidur pulas sama sekali tidak membuka matanya bahkan dalam posisi nyaman dengan tidur terlentang, tangan kanannya tidak sadar tertindih tubuh Piona ditarik perlahan ke lengannya. Mereka tidak sadar gerakan itu saling memeluk dan Edwin yang merasa dingin dikakinya menarik selimut sampai kedadanya dan menutupi tubuh piona juga.
Pukul 06.00 pagi hari
Tante marta, mama Piona selesai memasak di dapur.
Para bapak sedang membaca koran sambil minum kopi diteras belakang.
Tante marta dan mama Piona mulai mebicarajan anak-anaknya itu dan berniat membangunkan mereka untuk sarapan.
"Piona!Edwin! Bangun sudah pagi nak! Ayo kita sarapan!"Tante Marta berteriak dari dapur.
"Jeng bukannya, mereka kita kunciin ya semalem, kan kuncinya di saya jeng?" Jelas mama Piona
" Astaga aku lupa, ayukk kita keatas jeng!!" tante Marta menarik mama Piona untuk ke lantai atas dimana kamar itu berada
" Tok tok tok,bangun sayang Piona! Bangun Edwin! "Ketuk tante Marta.
Tapi tidak ada satupun yang menjawab dari balik pintu itu.
" Jeng pikiranmu apa ?" Tante Marta. Membayangkan sesuatu yang liar
" Mungkin???"Mereka berdua mulai cengar cengir.
"Sekarang kita buka ya ... 1,2,3."
Mereka berdua mengintip sebentar dan melihat anak mereka tidur dilantai sambil berpelukan.
"Yess, yess,yess, kita berhasil!!" Tante Marta tos dengan mama Piona.
"Mereka bisa semesra itu ya jeng??" Kata mama Piona.
" Anak muda jaman sekarang, udah nggak heran makanya kalau mereka sudah seperti ini, mereka tidak akan bisa menolak untuk menikah. Setidaknya yang mereka lakukan sudah keluar batas dan hal itu bisa menjadi ancaman buat mereka"
Tante Marta mengeluarkan senyuman jahilnya dan terlihat begitu bahagia.
" Kamu benar-benar licik jeng, tapi Terimakasih kamu mau menerima anakku ya jeng." Mama Piona memandang tante Marta"
"Sama-sama Jeng" Tante Marta tersenyum.
Tante Marta mengambil hp di kantongnya lalu mengambil foto mereka.
" Ayok Jeng, waktunya kita membangunkan mereka!"Ajak tante Marta.
Pintunya dibuka perlahan dan Edwin sedikit demi sedikit menyeka matanya yang tidak mau terbuka, Edwin melihat kesamping kanan. Mengusap matanya sekali lagi, kali ini dia terdiam, ketika pintu yang satu dibuka lagi, Piona membuka matanya dan mendapati Edwin memeluknya dan mereka berpandangan mata,mereka heran dengan keadaan ini.Piona melihat kearah pintu dan menatap Edwin lagi.
Akhirnya mereka berdua berteriak dan melombat kearah yang beralawanan
" Arrrrrrgghhhhhhhh"
" Apa yang kamu lakukan?" Piona menyilangkan tanganya ke dadanya
" hei ... kamu yang menyusulku kebawah!" Jelas Edwin dengan muka santainya.
' Aku tak mampu mengingatnya, dasar bodoh pasti kebiasaan tidurku.' Piona menatap ranjang dan kebawah.
"Dasar mesum, lalu kenapa kamu memeluku ?"
"Siapa yang mesum? Jelas- jelas kamu duluan yang turun kebawah, aku tidak sadar kalau itu."
Piona mengambil bantal dan melemparnya ke Edwin dan Edwin juga membalasnya.
"Dasar Edwin mesum, kamu cari kesempatan ya ha?" Piona memukul Edwin dengan guling
"Sakit, aku nggak mesum nggak nyari kesempatan juga. Sakit Ratu Kodok."
" Jangan mengelak dasar MESUM!!"
"Eh ... sudah, sudah, jangan bertengkar!"Piona dan Edwin akhirnya dilerai tante Marta dan mama Piona.
"Sepertinya kalian sudah melakukan?" Tangan tante Marta mengisyaratkan hal- hal yang biasa dilakukan anak muda.
"Apaan sih tante, nggak kok!" Piona segera menampik hal itu.
" Nggak lah ma,apaan sih ma?" Edwin menampik juga.
Mama Piona hanya tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
" Coba lihat sendiri, kalian masih bilang tidak melakukan apa-apa?"
Tante Marta menunjukkan mereka yang berpelukan tadi.
" Ma, ini salah paham tadi aku..."Jelas Edwin. terputus.
" Apa?Mau mengelak, kira-kira kalau ini tersebar kalian malu nggak?" Tante Marta mengancam dengan jahil.
" Tante please jangan tante! " Piona mengatupkan tangannya dan memohon.
" Ma, please jangan melakukan hal diluar batas lagi, sini ma hpnya dihapus aja." Kata Edwin sambil meraih hp mamanya tapi tidak berhasil.
" Oke, syaratnya cukup mudah kalian menikah 2 hari lagi, aku tunggu kalian dibawah untuk sarapan, silahkan mandi karena sebentar lagi desainer baju pernikahan dan cincin pernikahan akan datang." Tante Marta dan mama Piona keluar dari kamar.
" What! tante, aku masuk kuliah tante !" Piona mengikuti.
" Kuliahmu sudah kubereskan, aku sudah minta cuti 2 minggu, lagian dosenmu bilang ke tante kalau 2 minggu ini banyak dosen yang cuti jadi tidak ada alasan lagi."
"Ihhh tante..." Piona sangat kesal dan mengertakan kaki nya kelantai berkali- kali.
Edwin yang sedari tadi diam hanya memperhtikan Piona dari dalam kamar, Edwin terkikih kecil melihat tingkah pina
'Saat bangun tidur pun dia tetap cantik'
Edwin tertawa kecil lagi
Edwin mendekat kesamping Piona yang duduk di anak tangga.
" Apa kamu.benar- benar sangat membenciku ? Sampai- sampai kamu nggak mau menikah dengan ku ?"Edwin berbicara dengan muka menggodanya.
Piona melirik ke arah Edwin dengan mata sinisnya.
' Kurang ajar dia menjebakku.'
"Nggak!! apa kata dunia Edwin yang super sadis itu akhirnya menikah dengan gadis yang di bully,Terasa aneh. Kamu nggak sependapat? kamu juga membenciku kan? untuk apa kita menikah ?"Jelas Piona masih dengan wajah dilipat beberapa kali.
" Hhmmm kalau aku bilang aku tidak keberatan gimana? Aku tidak pernah membencimu?" Edwin membisikkan kecil ke Piona dan dia berdiri meninggalkan Piona sambil tertawa kecil.
Piona terkejut dan berhenti sejenak menelaah maksud ocehan Edwin tadi.
" Maksudnya dia setuju?"
jantung Piona tiba-tiba berdetak kencang lagi ' apa- apaan ini ? Kalau dia setuju ?Terus nggak ada yang membantuku menolak ? Kalau aku ketemu Dina di kampus bisa gawat, dia pasti pingsan mendengarku menikah dengan orang yang paling dia benci saat SMA. Tidak ini GILA!!'
Piona kembali keatas dan bergegas mandi
Edwin selesai mandi mengenakan kaos dan setelah jas yang menutupi dada bidangnya itu, rambutnya yang masih basah di biarkan tanpa disisir. Aroma parfum sudah dipakainya diseluruh area di tubuhnya. Edwin membayangkan setiap kejadian semalam dari balkon sama ciuman dikamar dan tidur memeluk piona. Dia tertawa sendiri di depan kaca. Kemudian dia sedikit tersadar.
' Apa aku jatuh cinta dengan Ratu Kodok??"
Tanganya menuju kearah jantungnya, debaran di dadanya begitu cepat ketika memikirkan Piona.
"Sudahlah, terserah! Aku masih tak paham dengan perasaanku."
Edwin yang sudah selesai akhirnya pergi keruang makan dan Piona pun menyusul keruang makan.
"Tante, aku pinjam baju yang ada dilemari ya karena piona nggak bawa ganti " Tanya Piona ke tante Marta
"Pakai saja semuanya, itu buat kamu kok Piona. Aku sengaja membeli baju wanita untukmu." Jelas tante marta.
" serius tante ????" tiba-tiba muka piona senang karena dapat pakaian baru.
" serius dong, tapi kamu menikah dulu dengan edwin ya?" lanjut tante Marta.
Muka Piona berubah masam lagi mendengar hal itu dan mereka melanjutkan untuk makan.
" Nak menurut mu bagaimana dengan pernikahan ini,apa kamu setuju ? " Tiba - tiba om Dodi papa Piona bertanya pada Edwin
Mata Piona memberi isyarat tapi Edwin tidak peduli dengan senyum yang menggoda Edwin menjelaskan.
"Aku sudah bilang kok om, aku tidak keberatan dengan pernikahan ini."
Sambil menatap Piona dan tersenyum kecil.
'Dasar kurang ajar, tamat sudah riwayatku tinggal aku saja yang dikeroyok ini.' Gumam Piona kesal.
"Baiklah jika sudah selesai kita ke ruang tengah karena para desainer sudah datang."
Hari itu semua dipersiapkan dirumah dari foto prewedding, Baju pengantin bahkan cincin semua sudah dipersiapkan. Piona dan Edwin yang sudah selesei makan akhirnya pergi ke ke ruang tengah.
'Aku kesal sekali hari ini, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.'
Akhirnya viting baju pengantin di mulai
Kedua belah pihak dari orang tua mereka duduk dan memberi pendapat ketika mereka keluar dari ruang ganti.
Sampai akhirnya pengantin pria yang tidak lain adalah Edwin sudah mendapatkan pilihanya.
Kemudian dia menunggu baju yang akan dikenakan Piona kali ini.
Tirai akhirnya dibuka.....
Semua nya mengacungkan jempol, mata Edwin tidak berkedip ketika Piona keluar dengan gaun panjang putih brokat yang terurai sampai kelantai dilengkapi buket bunga dan segenap asesoris yang melekat ditubuhnya.
' Ya Tuhan, inikah Piona??'
Mama Edwin tiba-tiba mencuri pandang ke Edwin yang sedari tadi tidak berkedip memandang Piona.
" Hei...Edwin??" Tante Marta atau mama Edwin membuyarkan lamunanya.
" Ah iya ma." Edwin tersadar
"Kamu terpesona ya ??" Goda tante Marta kepada anaknya itu.
" Nggak ma biasa aja..." Edwin mencoba menutupi kekagumanya.
' Rasanya pingin kabur.'Kata Piona dalam hati.
Wajah Piona masih dengan senyum terpaksa dia nggak berfikir sama sekali untuk kasih kabar semua sahabatnya tentang pernikahan ini.
Foto prewedding di persiapan dirumah juga
Para fotografer sudah siap. Piona dan Edwin semakin canggung foto mesra berdua di depan kamera.
Ada pengarah foto untuk prewedding ini yang membuat mereka semakin canggung
"Tangan Piona di dada Edwin ya satu aja!"
Piona gugup saat harus menyentuh dada Edwin. Tangannya sedikit gemetar, matanya tak mampu fokus menatap edwin.
" tangan edwin dipinggang piona ya dua-duanya!"
Edwin pelan meraba pinggang piona mata edwin tertuju ke mata Piona mereka berdua cukup canggung dan terbayang ketika mereka berciuman semalam. Tatapan mata itu dalam.
" Oke bagus, sudah selesai."Kata fotografernya .
Mereka menarik diri mereka masing- masing
Jantung Piona terus berdetak tidak beraturan membuatnya haus dan ingin minum.
Melihat Piona mengelus dadannya karena gugup, lagi-lagi Edwin tertawa kecil.
Waktunya memilih cincin pernikahan.
Disini Piona benar- benar tidak berselera untuk memilih. Karena hal itu tante Marta yang memilih cincin untuk mereka.
Persiapan pernikahan ini selesai
Terasa berat di benak Piona tak ada yang bisa terbayangkan dari pandangan masa depanya. Piona mengikuti arus yang ada, nggak bisa menolak perjodohan yang tidak pernah masuk diakalnya.
Bab 4 : Hari H Pernikahan
Pesta pernikahan diadakan dihalaman Rumah Edwin yang seperti halaman istana bangsawan karena cukup besar. Bunga- bunga sudah di pasang disetiap penjuru area pernikahan itu. Kursi tamu undangan sudah di tata rapi tepat di dua belah sayap panggung. Penataan taman yang begitu mewah dengan tema pesta kebun ini mungkin menjadi pernikahan impian bagi setiap wanita. Terdapat Balok Es juga yang bertuliskan Nama Piona dan Edwin.
Diruang rias Piona diliputi rasa gelisah karena sampai detik ini belum memutuskan akan menghubungi sahabatnya atau tidak. Dengan perasaan takut akhirnya Piona menelpon Dina sahabatnya itu.
"Tut,tut,tut"Tanda panggilan masuk.
"Halo, beb. Ya ampun beb kemana aja?" Dina antusias menjawab telpon.
"Ada kabar bahagia sekaligus buruk kamu mau tahu yang mana ?"Piona menata nafasnya.
"Jangan buat aku takut beb, coba pelan-pelan kamu jelaskan, yang mana aja deh!" Dina mulai penasaran.
"Please jangan kaget ya tp hari ini kamu harus siap kesini!!"Kata Piona.
" Iya terus...??" Dina sepertinya tidak sabar.
"Beb aku nikah sekarang, itu kabar bahagianya " Kata Piona spontan.
" What's serius ? Jangan bercanda Piona sama siapa? Kok mendadak banget kamu nggak MBA kan beb?" Dina semakin penasaran.
"Nggak beb ini perjodohan orang tuaku dan aku harus nerima karena berhubungan dengan perusahaan. Nggak ada alasan lagi untuk menolak beb."Curhat piona.
"Sabar ya beb. okay tunggu, walaupun kamu mendadak kasih tahunnya ke aku, tapi aku makasih banget kamu bilang ke aku ya beb."
"Sama- sama Din, dan kabar buruknya calon suami ku, kamu pasti kenal dan dia orang yang paling kamu benci di SMA dulu beb."Jelas piona.
"Sebentar, beb kamu nggak bercanda kan?"Kata dina mengingat orang itu.
"Iya dia Din, Edwin. Kamu nggak marah kan?"Piona menjelaskan dengan rasa takut.
"Duh beb ini beneran, aku dukung segala keputusan kamu kok beb cuma dia kan musuhan banget sama kamu beb? Aku nggak marah kok." Dina makin penasaran.
"Ceritanya panjang Din, bisa datang kesini kan ? acaranya jam 9 dirumah Edwin yang dulu dan see u beb setelah pernikahan kita ngobrol ya beb! Bye. "Piona mengakhiri telponnya.
"Ehh beb ... " "Tut...tutut...tutut..."Tanda telpon berakhir.
"Anakku tersayang "Mama Piona mengambilkan orange jus kesukaan piona
"Ma...."Piona memeluk mamamnya.
"Kamu sudah dewasa ya Piona, maafin mama jika ini membuatmu sedih tapi demi papa sayang. Kalau kita bangkrut mama nggak rela kamu harus putus kuliah."Mama Piona memeluk erat Piona.
"Tapi bukanya rencana ini sudah semenjak aku kecil?"Kata Piona mengerutkan dahinya.
"Awalnya mama nggak setuju, tapi ini memang keadaan mendesak."
"Ini nggak masuk akal dikepalaku ma, kenapa harus aku yang jadi pasangan Edwin kan bisa mencari wanita lain yang mencintai dia mungkin."Jelas piona.
" Alasannya tante Marta memilih kamu karna kamu pantas untuk meneruskan usaha tante Marta. Karena sejak SMA kata tante Marta selain murid teladan kamu juga paling berani membalas perbuatan Edwin. Tante Marta juga butuh wanita yang bisa membuat Edwin tahkluk dan jujur baru kali ini Edwin setuju dengan perjodohanya karena sebelumnya edwin menolak 5 perjodohan yang dilakukan tante Marta. Selain itu yang paling mendesak adalah ... "Jelas mama Piona.
"Apa ma??" Piona mulai penasaran.
"Jangan diam ma apa ??"Piona kembali merengek melihat mamanya terdiam sejenak.
"Tante Marta mengidap kanker payudara stadium 4 dan waktunya kata dokter hanya tinggal 3 bulan."
"Haahh!!Beneran ma?"Pikiran Piona tiba-tiba buyar sangat tercengang dengan pernyataan mamanya barusan.
"Makanya dia nggak bisa menunggu lagi. Masalah ekonomi keluarga kita tante Marta bersedia menyelesaikannya dan sebagai gantinya kamu akan jadi direktur utama perusahaan kosmetiknya nanti. Tante Marta waktu itu bersujud memohon ke mama untuk menolongnya. Kali ini jika perjodohan ini ditolak oleh Edwin tante Marta juga akan menyerah." lanjut mama Piona.
Piona terkejut mendengar penjelasan itu, hatinya yang awalnya gusar dan gelisah seperti luluh dan merelakan pernikahan ini terjadi.
"Ma tapi kenapa tante marta nggak pernah cerita?"Tanya Piona.
"Karena Edwin pun belum tahu tentang penyakit mamanya ini, kata tante Marta biarkan saja mereka tidak tahu tentang kondisi tante Marta saat ini karena tante Marta juga belum siap cerita kalau dia sakit. Edwin kan anak tunggal Piona. Jika dia tidak memiliki seorang ibu. tante Marta takut anak semata wayangnya itu kesepian harus ada sosok wanita yang bisa menjadi tempatnya bersandar karena Edwin itu sangat manja sama mamanya."
'Aku mengerti sekarang.' Gumam piona dalam hati.
Tiba- tiba dari pintu ruang rias Tante Marta datang.
"Pengantin wanita yang cantik, ayukk sayang tamu sudah menunggu didepan dan sepertinya Edwin sudah tidak sabar menunggumu juga. " Tante Marta memandang wajah Piona penuh kasih sayang.
"Sayang mulai sekarang kamu nggak boleh panggil tante lagi,kamu harus panggil mama ya !"Kata tante Marta.
"Iya tante...."Jawab piona "Coba sebut apa sekali lagi ?"Tanya tante Marta "Iya ma..."Kata Piona.
'Perasaanku seperti melebur, aku seperti merasakan kesedihan dan rasa sakit yang dirasakan tante Marta saat ini. Aku mengerti setiap ibu akan melakukan segala hal untuk kebahagiaan anaknya dan ini adalah salah satu yang seorang ibu lakukan untuk kebahagiaan anaknya.'
Akhirnya Piona menuju ke pesta pernikahan itu bersama dengan mama Piona dan tante Marta
Tepuk tangan riuh dari tamu undangan menyambut perjalanannya memasuki pesta pernikahan ini
Tampak sahabatnya sudah datang dan beberapa tamu sudah siap menjadi saksi pernikahan Piona dan Edwin
Piona meraih tangan papa nya untuk diantar ke depan altar sembari berjalan Hatinya bergumam dan menatap Edwin yang sudah menunggunya didepan altar.
' Tuhan, aku tahu sampai detik ini aku belum mencintainya. Jika memang dia adalah jodoh yang engkau sediakan untukku berkatilah kami Tuhan. Terjadilah padaku menurut kehendakmu.'
Akhirnya piona sampai kedepan altar.
Tangan piona seakan menurut ketika papanya memberikan telapak tangan piona kepada Edwin.
Edwin tersenyum dan bergumam juga dalam hatinya
' Terimakasih Tuhan Engkau memberiku calon istri yang baik dan Cantik, walaupun aku tahu dia terpaksa menjalani pernikahan ini. Tapi aku tahu dia juga berkorban demi keluarganya. Berkatilah kami Tuhan.'
Prosesi Pemberkatan Nikah Dimulai.
" Bersediakah saudara Edwin Herlangga mencintai dan menyayangi saudari Piona Akti dewi dengan sepenuh hati saat susah maupun senang dan sampai maut memisahkan?"
Edwin menatap wajah piona dan dengan mantap menjawab. "Ya saya bersedia."
Kini giliran piona
" Bersediakah saudari Piona Akti Dewi mencintai dan menyayangi saudara Edwin Herlangga dengan sepenuh hati saat susah maupun senang dan sampai maut memisahkan?"
Suasana begitu hikmat, Piona masih terdiam sejenak dengan waktu yang cukup lama
Membuat semua tamu undangan menjadi gelisah.
Akhirnya Piona menatap Edwin dengan tatapan malu, dia pun menjawab. " Ya saya bersedia."
Tepuk tangan kembali menghiasi pesta pernikahan ini.
"Silahkan pasangkan cincin ke jari pasangan anda!"Kata pendeta.
Tangan mereka berdua sama - sama gemetar
Mereka saling menatap sekali lagi dan mulai saling memasangkan cincin.
Dan setelah pasang cincin selesai.
" Tuhan memberkati kalian berdua dan sekarang kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri silahkan mencium pasangan anda!!" Kata pendeta.
'Oh Tuhan kenapa aku lupa dengan adanya adegan ini?' Gumam piona tiba-tiba kebingungan
Edwin yang melihat hal itu tersenyum kecil dan membisikkan sesuatu ketelinga piona sambil menggodanya." Tidak usah setegang itu untuk menciumku, bukankah malam itu kita sudah berciuman?"Edwin tersenyum nakal pada piona.
'Dasar cowok mesum.' umpat piona dalam hati.
"Aku tidak tegang, biasa aja ... " Piona menyangkal kegugupanya dengan ketus.
Riuh Tamu undangan semakin menjadi
" cium,cium,cium,cium,cium,cium,cium!!!"
Mereka mengambil posisi berhadapan, Edwin masih geli dan tersenyum melihat Piona salah tingkah ketika Edwin tersenyum dan menatapnya.
Tangan Edwin mengusap pelan helai rambut di kening Piona dan menyingkirkannya sedikit ke bagian telinga, mata Piona gugup memandang Edwin di hadapannya.
'Aku masih tak paham kenapa tatapan matanya begitu lembut dan jari-jemarinya menyampaikan sesuatu seperti perasaan sayang??'Kata Piona dalam benaknya.
Jari-jemari Edwin dari telinga Piona berlari kecil kebagian belakang leher Piona, menariknya pelan agar Edwin mampu meraih bibir kecil Piona yang sekarang berwana pink kemerahan itu. Pelan tapi pasti, bibir Edwin mulai mendekat ke bibir Piona. Piona yang tak bisa menahan detak jantungnya akhirnya menutup matanya dan bibirnya sudah bersentuhan dengan bibir Edwin sekali lagi, perasaan mereka berdua semakin tidak menentu ketika Edwin mulai melumat bibir Piona dengan lembut. Edwin sama sekali tidak memainkan lidahnya disini, sehingga ciuman itu begitu manis dan penuh dengan rasa sayang. Tangan Edwin yang lain menarik pinggang ramping Piona agar lebih dekat dengannya, Piona yang mulai terbawa suasana sekali lagi melingkarkan tangannya di tengkuk Edwin dan Riuh Tamu undangan semakin ramai terdengar memenuhi pesta pernikahan itu.
Akhirnya Edwin melepaskan bibirnya, Edwin melihat rona merah diwajah Piona.
'Ternyata kamu bisa malu juga Ratu Kodok???' Edwin bergumam di hatinya.
Kedua tangan Piona masih ada di tengkuk leher Edwin tapi Piona tidak bisa lagi menahan rasa malunya. Piona menolehkan kepalanya kearah yang lain tapi Edwin meraih dagu Piona dan menolehkan kembali wajah Piona kehadapanya. Tatapan mata itu berlangsung sangat lama sampai akhirnya acara dansa pasangan dimulai dan mereka yang masih sama melanjutkannya dengan berdansa.
"Apa yang kamu pikirkan Ratu Kodok?"Tanya Edwin yang tidak tahan melihat wajah Piona semakin merah.
"Ehhhmmm nggak, aku nggak mikirin apa-apa kok" Piona mulai susah fokus menatap edwin
Kedua tangan edwin meraih kedua pinggang ramping piona, piona terkejut tapi tidak bisa berbuat apa-apa dan mendekatkan bibirnya ke telinga piona.
Edwin mulai berbisik."Dengarkan baik- baik,kamu sangat cantik." Piona benar- benar terkejut debaran jantungnya tidak lagi beraturan, suhu badannya berubah panas, wajahnya semakin memerah. Membuat Edwin saat itu tidak tahan lagi untuk tersenyum dan tertawa melihat piona. Piona yg melihat Edwin tertawa malah membuatnya semakin malu lalu spontan melepaskan tangan Edwin dari pinggangnya dan berlari turun dari panggung dan kembali keruang riasnya. tangan Piona menutupi wajahnya dan terlihat air mata menetes di kedua pipinya.
Edwin terkejut melihat Piona meneteskan air mata, Edwin mengejar Piona tapi dihentikan Oleh tante marta
"Kenapa piona pergi?"Tante Marta penasaran
Beruntung tamu undangan tidak banyak yang melihat kejadian ini.
"Bentar ma..."Jawab Edwin tidak bisa menjelaskan.
Edwin berlari lagi, pikirannya tiba-tiba kacau
Dan sadar sepertinya dia kelewatan kali ini.
' Maaf piona, maaf."Hanya kata-kata ini yang terlintas di pikiran edwin saat ini.
'Apa-apaan sih, dia malah ketawa? Dasar jahat!! Tapi kenapa aku menangis? Aku nggak paham dengan perasaanku, kenapa dia bisa berbicara dengan begitu manis?"Pikiran dan hati piona sedang kacau, sambil terduduk dan mengambil tisu didalam tasnya. Mengusap sedikit air matanya tapi air matanya tidak kunjung berhenti.
Edwin sampai di pintu ruang rias yang terbuka, banyak pemikiran yang berada di benaknya.
'Apakah dia benar- benar tersiksa dengan pernikahan ini ? Mungkinkah aku salah menerima perjodohan ini? Apakah selanjutnya kita harus berpisah? Tapi hatiku tidak rela itu terjadi.' Edwin gelisah dan gusar dengan perasaannya sendiri.
Sedikit demi sedikit langkah kakinya memberanikan diri untuk mendekat ke tempat Piona yang terduduk di depan meja rias.
'Aku harus berdamai dengan diriku sendiri, aku sudah berjanji di hadapan Tuhan aku tidak bisa mengingkarinya.'Kata Piona meyakinkan dirinya didalam hati sambil mencoba menghentikan air matanya.
Piona mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Piona spontan menoleh dan dia melihat Edwin dengan ekspresi seperti merasa bersalah.
Piona terkejut ketika Edwin bersujud di hadapanya dan mercoba menggenggam tangan kanan piona.
" maaf Piona, apakah menikah denganku begitu menyiksamu ? Maaf jika aku tertawa tadi, aku sangat tulus bilang kalau kamu cantik hari ini. Apakah aku salah dengan hal itu?aku tidak pernah tega melihatmu menangis, aku tahu mungkin pernikahan ini salah, jika kamu mau, aku akan mengakhirinya tapi kalau boleh jujur aku sudah mulai menyukai kamu piona dan aku tidak rela jika aku harus menakhirinya. Apa yang harus aku lakukan ?" Edwin mengutarakan isi hatinya.
Piona terkejut ketika Edwin menyatakan suka kepadanya,
' Aku nggak salah denger Edwin menyukaiku?'
Dari sepanjang pertanyaan yang diutarakan Edwin kepada piona hanya pertanyaan itu yg berputar- putar di kepalanya.
"Emm-emmm begini." Pona masih tersendat untuk berbicara " begini Edwin, bisakah kamu memberiku waktu?aku tidak membenci pernikahan ini ataupun berniat mengakhirinya tapi..." Piona kembali terhenti.
"Tapi kamu belum mencintaiku ataupun menyukaiku kan?" Edwin mercoba menebak dan melanjutkan kalimatnya.
'Edwin bisa mengerti apa yang aku ingin utarakan??' Sekali lagi Piona terkejut.
"Aku tidak akan memaksamu untuk jatuh cinta padaku apalagi membuatmu tidak nyaman di sini, aku akan memberikan banyak waktu untukmu berfikir tapi biarkan aku menyukai mu sepanjang waktu yang aku bisa, aku pun tidak paham perasaan apa ini ?keadaan ini juga diluar akal sehatku. Tapi entah mengapa dari awal aku melihat mu dan dengan pertemuan yang singkat ini aku yakin kamu adalah pasangan yang diberikan Tuhan kepadaku"Jelas Edwin sambil menggenggam kedua tangan Piona yang sekarang resmi menjadi istrinya itu.
" Aku nggak paham kenapa kamu bisa bersikap seperti ini terhadapku?? Dulu kamu begitu jahat sampai tidak ada hari tanpa membuatku menangis. Tidak ada sedikitpun bayangan kamu bisa memperlakukan wanita seperti ini ?? Bahkan aku tidak mengerti kenapa kamu bisa memilihku yang jelas-jelas tidak mencintaimu ?? Kenapa dari 5 perjodohan itu. Kamu bisa memilih aku? Aku selalu takut berhadapan denganmu lagi apalagi sikapmu hari-hari ini sangat baik padaku. Aku takut tiba-tiba kamu berubah dan menjadi sangat sadis seperti di SMA. Jika aku hidup dengan mu. Apa yang akan terjadi padaku ? Apa aku juga akan menangis sepanjang waktu ? Sikapmu yang baik membuatku semakin takut edwin? Apa yang harus kulakukan?"Pecah sudah segala kegalauan dan bayangan buruk Piona terhadap Edwin.
Piona kembali menangis dan tidak bisa lagi menahan air matanya. Edwin memeluknya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
"Maafkan aku jika yang kulakukan di SMA membuatmu sangat trauma. Aku juga tidak mengerti kenapa aku bisa jahat terhadapmu saat itu. Tapi yang aku tahu, saat itu kamu memang satu- satunya wanita yang berani membalas perbuatanku. Aku juga diam-diam tertarik padamu tapi selalu kuurungkan niatku karena akan menjadi aneh jika aku mendekatimu saat itu. Dan nyaliku belum cukup untuk melakukan itu, aku mungkin nggak pernah tahu kita akan dijodohkan tapi saat mama bilang padaku, bahwa dia mengundang mu ke Pesta ulang tahunku. Entah apa yang terpikir olehku saat itu dan aku tidak bertanya apapun dan langsung pulang begitu saja. Padahal selama ini aku masih tidak ingin pulang karena aku trauma dengan perjodohan."
Edwin mengusap rambut Piona perlahan, kali ini pelukan itu membuatnya tenang.
Ada yang terlintas dipikiran Piona.' Tertarik padaku sejak SMA? Dia trauma dengan perjodohan?' Pertanyaan ini masih terus berputar di pikiran piona.
Pelukan itu dilihat Tante Marta atau mama Edwin di depan pintu ruang rias. Tante Marta tertawa ketika melihat mereka berpelukan dengan begitu mesra.
" Eheemm ..." Tante Marta berdehem mengagetkan mereka.
Edwin dan Piona salah tingkah dan melepas pelukan mereka. Mereka pun terlihat bingung sendiri.
"Ee ... Sepertinya acara masih berlangsung di luar tapi sepertinya aku melihat kalian sudah tidak sabar untuk berduaan?" Kata tante Marta menyindir mereka berdua dengan senyum jahilnya.
"Nggak kok ma." Mereka berdua kompak mengelak.
"Kalau begitu aku tunggu kalian diluar kita makan siang bersama!"Tante Marta meninggalkan mereka berdua dengan ekspresi terkikih geli lalu pergi menuju meja makan VIP yang disediakan di pesta pernikahan itu.
Mereka berdua terlihat salah tingkah di ruang rias itu,....
Bab 5 : Malam Pertama 1
Download Ebooknya di Sini !
bisa download di Google playbook ya guys
terimakasih



Comments
Post a Comment